Kisah Nabi Musa dan Hamba Allah Khiddir Sesuai Al-Quran dan Sunnah.

1. KISAH NABI MUSA DAN HAMBA ALLAH KHIDDIR DALAM QURAN

Pada suatu saat Nabi Allah Musa berpidato di tengah-tengah kaumnya, lalu ia ditanya oleh kaumnya, siapakah orang yang paling pandai? Musa menjawab: Aku. Kemudian Allah mencelanya, ilmu itu tidak diturunkan kepadamu saja, Lalu Allah mewahyukan kepadanya: Ada seorang Hamba diantara hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan lebih pandai darimu. 

Lalu Musa berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana Aku bisa bertemu dengan dirinya? Maka Allah berkata padanya: Bawalah ikan Hut (ikan besar) dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, Maka itulah petunjuknya. Lalu berangkatlah Musa bersama pelayannya bernama Yusya bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakan kepalanya di atas batu dan tidur. Dalam keadaan seperti ini turunlah hujan yang membasahi ikan hut, Kemudian keluarlah ikan hut itu dari keranjang (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut ). (Qs. Al-Khafi ayat 61) 

Kejadian ini membuat heran Musa dan muridnya, Maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalanannya. Hingga pada suatu pagi Musa berkata pada muridnya, (Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lelah Karena perjalanan kita ini), (Qs. Al-Khafi ayat 62). 

Musa tidak merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana yang diwahyukan. Maka muridnya berkata kepadanya: (Tahukan engkau tuan guru ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? sungguh Aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang membuatku lupan kecuali setan) (QS. Al-Kahf ayat 63). Musa Kemudian berkata: (Itulah tempat yang kita cari, lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula) (Qs. Al-Khafi ayat 64).

Ketika keduanya sampai dibatu tersebut, didapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam. Khiddir lalu berkata, "Bagamana cara salam ditempatmu?" Musa menjawab, "Aku adalah Musa". Khiddir balik bertanya, "Musa bani israil?" Musa menjawab: "Benar". Musa Kemudian berkata:  (Bolehkah Aku mengikutimu supaya  kamu mengajarkan kepadaku imu yang benar diantara ilmu-ilmu yang di ajarkan kepadamu?)
Khiddir menjawab: (sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku) (Qs. Al-Khafi ayat 66-67).

Khiddir melanjutkan ucapannya, Wahai Musa, Aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang dia mengajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan-Nya yang Aku juga tidak tahu. Musa berkata: (Insya Allah, kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apapun) (Qs. Al-Khafi ayat 69). Maka keduanya berjalan kaki ditepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal. Mereka berbicara agar orang-orang yang ada di perahu itu mau membawa keduannya. Karena Khiddir telah dikenali oleh pemilik perahu Maka mereka membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk di air laut untuk meminum dengan satu atau dua kali patukan. 

Khiddir lalu berkata: Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air lautan. Kemudian Khiddir sengaja mengambil papan perahu lalu merusaknya. Musapun berkata, mereka telah membawa kita dengan tanpa bayaran, tapi kamu kenapa merusaknya untuk menenggelamkan penumpangnya? Khiddir berkata: (Bukankah Aku telah berkata bahwa, Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku). Musa menjawab: (Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan Jangan kamu membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku) (Qs. Al-Khafi ayat 72-73). Kejadian pertama ini Karena Musa lupa. 

Kemudian keduanya pergi Hingga bertemu dengan anak kecil yang sedang bermain dengan dua temannya. Lalu Khiddir memegang kepala anak itu, mengangkat menbanting hingga mati. Maka Musapun bertanya: (Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?) (Qs. Al-Khafi ayat 74). Khiddir menjawab: (Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?) (Qs. Al-Khafi ayat 75) Lalu Musa berkata (Jika Aku bertanya tentang sesuatu setelah ini, Maka Jangan lagi engkau memperbolehkan Aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup bersabar menerima alasan dariku) (Qs.Al-Khafi ayat 76).

(Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh. Maka Khiddir menegakan dinding itu, Khiddir memperbaiki dinding itu dengan tangannya sendiri. Musa berkata: Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu) (Qs. Al-Khafi ayat 77), Musa tidak bisa sabar sehingga Khiddir berkata: (Ini perpisahab antara Aku dan engkau, Aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkua tidak mampu sabar terhadapnya) (Qs. Al-Khafi ayat 78).

Khiddir menjelaskan tentang perbuatannya melubangi perahu: (Adapun perahu itu kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut, Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang Raja dzolim yang akan merampas setiap perahu) (Qs. Al-Khafi ayat 79) Kemudian Khiddir menjelaskan tentang perbuatannya membunuh anak kecil: (Dan Adapun anak muda kafir itu, kedua orang tuanya mukmin dan kami hawatir kalau dia tidak mau memaksa kedua orang tuannya kepada keseatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, sekiranya Rabb mereka menggantinya dengan seorang anak yang lain, yang lebih baik kesuciannya dari pada anak itu dan lebih sayang kepada ibu bapaknya) (Qs. Al-Khafi ayat 81).

Khiddir selanjutnya menjelaskan tentang perbuatannya membetulkan dinding yang hampir roboh:  (Dan Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang dibawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shaleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang Ku perbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya) (Qs. Al-Khafi ayat 82) Kemudian Khiddir meninggalkan Musa, seandainya Nabi Musa bisa lebih bersabar pasti akan ditunjukan kejadian-kejadian yang sangat menakjubkan kepadanya. Semoga Allah merahmati Nabi Musa. SEKIAN. 


2. KISAH NABI MUSA DAN KHIDDIR  DALAM AS-SUNNAH 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Amru berkata, telah msngabarkan kepadaku Sa'id bin Jubair berkata, Aku berkata Ibnu Abbas, sesungguhnya Nauf Al Bakali menganggap bahwa Musa bukanlah Musa Bani Isra'il, tapi Musa yang lain.

IBNU Abbas lalu berkata, Musuh Allah itu berdusta, sungguh Ubay bin Ka'b telah menceritakan kepada kami dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam: Musa Nabi Allah berdiri dihadapan Bani isra'il memberikan Khutbah, Lalu dia ditanya: Siapa orang yang paling pandai?  Musa menjawab: Aku.

Maka Allah ta'ala mewahyukan kepadanya: Ada seorang hamba diantara hambaku yang tinggal dipertemuan antara dua laut lebih pandai darimu. Lalu Musa berkata, Wahai Rabb, bagaimana Aku bisa bertemu dengannya? Maka dikatakan padanya: Bawalah ikan dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, Maka Itulah petunjuknya. Maka berangkatlah Musa bersama pelayannya yang bernama Yusya bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakan kepalanya diatas batu dan tidur. Kemudian keluarlah ikan itu dari keranjang (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut).

Kejadian ini mengherankan Musa dan muridnya, Maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalanannya. Hingga pada suatu pagi Musa berkata kepada pelayannya (Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lalah Karena perjalanan kita ini). Musa tidak merasa kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan. Maka muridnya berkata kepadanya : (Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya Aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan Aku ini kecuali setan.) Musa lalu berkata: (Itulah tempat yang kita cari.

Lalu keduanya mengikuti jejak mereka semula) Ketika keduanya sampai pada batu tersebut, di dapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam. Khiddir lalu berkata, Bagaimana cara salam di tempatmu? Musa menjawab, Aku adalah Musa. Khiddir balik bertanya, Musa Bani isra'il? MUSA menjawab benar. Musa Kemudian berkata: (Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?) Khiddir menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku). Khiddir menlanjutkan ucapannya, Wahai Musa, Aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang Dia mengajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga punya ilmu yang diajarkan-Nya yang Aku juga tidak tahu. Musa berkata: (Insha Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalan satu urusanpun).

Maka keduanya berjalan kami ditepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal. Mereka berbicara agar Orang-orang yang ada di perahu mau membawa keduanya. Karena Khiddir telah dikenal Maka merekapun membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk air laut untuk minum dengan satu atau dua kami patukan. Khiddir lalu berkata, Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air laut. Kemudian Khiddir sengaja mengambil papam perahu lalu merusaknya (melobanginya). Musapun berkata, mereka telah membawa kita dengan tanpa bayaran, tapi kenapa kamu merusaknya untuk menenggelamkan penumpangnya? Khiddir berkata: (Bukankah Aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan Aku) Maka Musa menjawab: (Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan Janganlah kamu membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku). Kejadian pertama ini Karena Musa lupa.

Kemudian keduanya pergi hingga bertemu dengan anak kecil yang sedang bermain dengan dua temannya. Khiddir lalu memegang kepala anak itu, mengangkat dan membantingnya hingga mati. Maka Musa pun bertanya: (mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh jiwa orang  lain). Khiddir menjawab: (Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku). Ibnu Uyainah berkata, ini adalah sebuah penegasan (maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Maka Khiddir menegakkan dinding itu).

Rosulullah melanjutkan ceritanya: Khiddir melakukanya dengan tangannya sendiri, lalu Musa berkata: (Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Khiddir menjawab:  inilah saat perpisahab antara Aku dan kamu) Nabi Shlallallahu'alaihi wasallam bersabda: semoga Allah merahmati Musa. Kita sangat berharap sekiranya Musa bisa sabar sehingga akan banyak cerita yang bisa kita dengar tentang keduanya. 

(HR. Bukhori Bab Ilmu no. 119)



Referensi :

-Qs. Al-Khafi
-Kitab Hadist Sahih Bukhori


(B_yk)

C.09.12.2018.Rb


Comments