Cerpen [Luka] Ketika Malam Bulan Purnama


Aku menyukai malam. Dan, tidak ada alasan tersendiri bagiku untuk menyukai kegelapan yang istimewa itu. Mungkin, karena namaku adalah Bintang. Sehingga dengan mudahnya aku jatuh hati pada malam.

Aku tahu saat malam tiba dunia akan gelap gulita. Tapi, tidak jika kedua mata ini terbuka. Aku pernah mengatakan pada ibu, bahwa gelap yang sesungguhnya dikendalikan oleh kedua mata. Ibu pernah tidak mempercayai ucapanku, tapi akhirnya ibu memahaminya juga.

Jika aku takut pada gelapnya malam, seharusnya aku lebih takut saat mata ini tertutup. Karena bisa kupastikan hanya kegelapanlah yang kulihat. Berbeda ketika kubuka kedua mata ini, sebuah cahaya pasti akan terlihat. Yap! Begitulah kecintaanku pada malam, yang tidak seharusnya ditakuti oleh kebanyakan orang.

Sepertinya ibu tidak pernah salah memberi nama ini untukku, Bintang. Selayaknya bintang yang mencintai langit malam, aku pun mencintainya. Aku menyukai segala kenangan yang tercipta bersama malam. Meskipun aku tahu, kenangan itu tak luput dari luka. Dan, meskipun aku harus terpenjara pada bayangan luka.

Luka? Aku tidak pernah melupakannya. Luka dari malam bulan purnama satu tahun yang lalu. Luka yang sampai saat ini tidak dapat kulupa. Apakah ini nyata? Mengapa aku peduli pada luka saat ini? Ini terlalu menyakitkan! Harusnya kulupakan luka itu. Tapi, hatiku telah beku bersama luka yang menjadikan isak tangis itu terdengar pilu.

Suatu sore, aku begitu menantikan malam. Secangkir cokelat terseduh dengan sempurna. Kursi bambu di teras rumah menanti kedatanganku. Kursi itu telah setia menemaniku untuk menyaksikan senja yang mulai menghilang tertelan gelapnya malam.

Aku adalah Bintang. Menyukai malam dan segala keindahan yang nampak membersamainya. Meski terkadang aku kasihan pada senja yang harus pergi begitu saja saat malam telah tiba. Dan, saat itu adalah malam bulan purnama. Langitnya pun nampak berbeda dari biasanya.

Aku melihat bulan yang bulat dengan sempurna berada di tengah-tengah luasnya langit malam. Cahayanya begitu memesona,  hangatkan hati para menikmatnya. Saat itulah secangkir cokelat hangat kusesap, perlahan namun pasti. Perpaduan antara keindahan alam dan manisnya cokelat membuatku terpikat oleh malam yang semakin gelap. Hingga akhirnya tak kusadari, cangkir cokelat yang kugenggam pun terjatuh entah apa sebabnya.

Tubuhku terasa kaku, nafasku sesak dan sepertinya denyut nadiku melambat. Aku seperti seorang pasien yang sedang sekarat. Kedua mata ini tak dapat lagi melihat gelapnya malam, padahal aku masih dapat melihat cahaya lampu yang remang.

Aku berada di mana? Kesadaranku seolah dipermainkan. Rasa dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh. Bersama dengan itu, jeritan ibu dan ayah terdengar saling bersahutan. Suara-suara yang sangat membingungkanku.

Ada apa denganku, bu?  Ingin sekali kulontarkan pertanyaan itu pada ibu, yang sedang menggoyangkan tubuhku berulang kali. Tapi, apa boleh dikata, ucapan itu hanya sebatas angan. Nyatanya mulutku tidak bisa terbuka. Isak tangis ibu pun terdenhar mengiringi jeritan ayah.

Kenapa menangis, aku tidak mati!
Ingin sekali kupertegas pada ibu, bahwa anaknya masih bernafas di hadapannya. Tapi mengapa ayah pun tidak melarang ibu untuk menahan air matanya saja? Aku bahkan tidak mengalami kecelakaan, juga tidak sedang berjuang melawan kematian.

"Sadar Bintang! Bangun!"
Yah, kalimat itulah yang terdengar berulang kali. Suara yang menyadarkanku bahwa raga ini tak lagi menjadi milikku.

Tidak, ibu! Aku tidak mati. Jadi, jangan meneteskan air mata untukku. Nyatanya, lagi-lagi semua kalimat itu hanya ada dalam batinku saja.

Aku juga tidak bisa menyalahkan kesedihan ibu sepenuhnya. Nyatanya, ragaku memang sedang berada di antara jiwaku dan jiwa dari sosok yang tidak memiliki raga.

Oh Tuhan, selamatkan aku!
Doa dan harapan hanya mampu kupanjatkan dari dalam hati. Tubuhku semakin dingin, dan kurasakan cakaran-cakaran kecil pada wajahku. Bersamaan dengan itu, aku mendengar suara jeritan dan rintihan seorang anak kecil yang memintaku untuk menyerahkan ragaku padanya.

"Mengapa harus aku?"
Aku bertanya padanya,  seorang anak kecil yang sedang berada dalam ragaku. Sosok anak perempuan yang menyisakan ruang kecil nan pengap untuk kutinggali dalam ragaku sendiri.

"Karena aku menyukaimu. Sama seperti kesukaanmu pada malam. Aku pun menantikan raga ini untuk membersamai jiwaku!" Jawabnya perlahan.

Suara lirih yang sangat jelas terdengar olehku itu berasal dari mulutku. Tapi bukan aku yang mengendalikannya. Ungkapan tentang keinginannya untuk memiliki ragaku adalah hal yang sangat menyakitkan bagiku, pun dengan keluargaku. Gadis kecil bertubuh mungil yang sering kali kulihat, kini berada satu raga denganku. Parahnya, aku harus berjuang melawannya dari tempat persemayamanku yang sempit ini.

Yap! Aku berada dalam ruangan kecil yang entah pantasnya disebut apa. Aku hanya bisa mendengarkan segala hal yang orang lain katakan di alam dunia. Dan juga, bisa mendengarkan suara hatiku maupun suara hatinya. Tapi, aku tidak bisa memberontak, apalagi mengusirnya dari dalam ragaku.

Bisikan-bisikan doa terucap dari bibir ibu yang mulai terlihat pucat. Pun dengan ayah, tangannya dengan lembut mengusap rambutku, seraya membacakan doa yang dipercayainya dapat mengusir sosok gadis kecil yang merebut ragaku itu.

"Dengarkan ayah, kamu pasti bisa Bintang. Lawanlah!" Suara ayah terdengar jelas olehku.

Entah mengapa malam itu terlalu menyakitkan bagiku. Luka yang tidak berwujud nyata, tetapi rasanya mampu mengalihkan duniaku.

"Aku sedang berusaha ayah!" Jawabku dari dalam hati.

Jawabanku ternyata tidak membuatnya menyerah. Bagaimana rasanya jika yang menempati raga ini bukanlah jiwa manusia? Sakit bukan? Ah, aku ingin sekali memakinya dengan kalimat seperti itu, agar dia menyadari kesalahannya. Namun, semua hanya  berakhir sia-sia.

"Apa maumu?" Tanyaku singkat.
Aku butuh tenaga untuk memberontak. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu apa tujuannya masuk ke dalam ragaku.

Harap-harap cemas dirasakan oleh keluarga yang sedang menantikan kesadaranku. Yah, di sekelilingku sudah penuh oleh orang-orang terdekat yang siap membantuku.

Jika memang bisa, aku akan sangat beruntung sekali memiliki orang-orang hebat seperti mereka. Tapi, gadis kecil yang berada di dalam ragaku tidak mau menyerah sama sekali.

"Aku ingin menjadikanmu temanku!" Jawabnya tegas, dalam hatiku.

Begitulah hatiku dipermainkan olehnya. Aku dan dia bisa berbincang menggunakan hati yang sama. Bahkan, dia dapat menggunakan mulutku untuk berbicara semaunya.

"Apa kamu akan keluar jika aku mau menjadi temanmu?" Tanyaku penasaran.

Lantunan-lantunan doa dan ayat suci masih terdengar olehku. Ragaku terasa panas, tapi juga dingin. Perpaduan dua rasa yang jelas berasal dari alam yang berbeda.

"Iya! Berjanjilah, maka aku akan keluar dari ragamu," gadis itu bernegosiasi denganku.

Ingin sekali mulut ini memakinya. Memangnya dia siapa bagiku, sampai berani-beraninya bernegosiasi denganku tentang raga ini dan janji sebuah pertemanan?

"Sadarlah, Nak!" Ibu masih terisak. Aku melihat dengan samar wajah ibu yang semakin pucat. Pasti ibu sangat menghawatirkanku.

Aku masih bisa melihat bintang di langit malam, meski jiwaku terkunci dalam ragaku sendiri. Bintang itu terlihat sangat terang. Apalagi bulan yang sempurna sedang bersanding dengannya. Mereka seperti sedang mengajakku untuk terus berjuang mempertahankan apa yang kumiliki.

"Oke! Kita berteman, keluarlah!" Aku menegaskan jawabanku padanya dari dalam raga.

Tubuhku kejang setelah kusampaikan kalimat itu. Rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuh, sedangkan rasa dingin yang kurasakan sebelumnya telah hilang. Tubuhku terkulai lemas, kedua mataku terbuka dengan lebar. Kulihat wajah ayah dan ibu yang begitu cemas menantikan kesadaranku.

"Sakit, bu!" Aku menjerit, merintih, bahkan menangis sesenggukan.

Sakit sekali badanku. Gadis kecil itu pergi begitu saja setelah perjanjian tentang sebuah pertemanan di antara kami terucap. Dengan mudahnya dia permainkan tubuhku ini, membiarkan rasa sakitnya kutanggung sendiri.

Pelukan ibu terasa hangat sekali. Usapan tangan ayah pun tidak kalah menghangatkan jiwaku. Meski di sela-sela pelukan ibu kudengar isak tangis yang begitu pilu. Aku tahu, ibu pasti takut kehilanganku.

Kupikir, malam bulan purnama yang sangat kunantikan akan berlalu dengan kenangan yang menyenangkan. Nyatanya, luka yang tidak nampak oleh mata berhasil mengalihkan duniaku. Rasa sakitnya tidak dapat dibandingkan dengan apapun.

Mulai saat itu, kecintaanku pada malam mulai berkurang. Aku hanya menikmati malam di balik jendela kaca, di dalam rumah. Meski akan ada banyak bintang yang memanggilku. Walau ada bulan purnama yang ingin menemani malamku--aku tidak peduli lagi. Yang kuingin adalah menjaga jiwa dan ragaku agar tetap bersatu. Meski kenangan tentang luka yang tidak terlihat itu selalu menghantuiku--aku hanya ingin bahagia bersama ayah dan ibu!

Comments