Cerpen | Bintang Terakhir

Pic—pixabay


               ((Tak selamanya bintang itu memesona))

Aku begitu menyukai bintang. Entah sejak kapan kumiliki rasa ini. Yang kutahu, bintang akan terus bersinar terang, tak pernah redup. Dan kuharap, kelak jodohku adalah orang yang juga menyukai bintang. 

Malam ini jantungku kembali berdebar hebat. Di taman ini, aku kembali bertemu dengan seorang pria tampan yang ayah perkenalkan padaku tiga hari yang lalu. Pria berkumis tipis yang selalu memakai kaca mata bulat dengan lensa berwarna biru. Tingginya tak jauh berbeda denganku. Dan, hal yang sangat kusuka tentangnya adalah senyum tipis yang membuat kumis itu nampak lebih manis dari biasanya. 

Bunga-bunga di taman, langit yang bertabur bintang, dan semilir angin seolah memberikan ucapan selamat padaku atas rasa yang kumiliki. Sepertinya cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin, dia juga menyukaiku.

Ah, apa benar aku telah jatuh cinta pada pria yang ayah jodohkan denganku? Tunggu! Mungkin aku sudah gila, atau memang benar-benar menyukainya. Degup jantungku selalu tak dapat terkendali, nafasku sesak seolah ada banyak kupu-kupu yang sedang berusaha saling mendahului untuk keluar dari rongga dadaku. Yang kupahami, semua ini adalah tanda cinta yang akan dialami oleh wanita manapun saat mulai menyukai seorang pria.

"Dingin banget ya?" Suara yang terdengar sangat menenangkan. Dia selalu menyapaku lebih dulu saat kami bertemu. Membuatku hanya bisa mematung sembari mengulum senyuman yang tak berani kuperlihatkan padanya. Dan, membiarkan wajahku memerah sampai akhirnya dia akan menyadari bahwa aku menyukainya.

"Kenapa gak jawab? Sini pakai jaketku aja, Ra!" Dia mendekat, melepas jaket yang ia kenakan lalu mengulurkannya padaku, tanpa basa basi.

"Terimakasih, Bintang." Hanya itu yang bisa kukatakan sembari mengambil jaket yang ia ulurkan, kemudian memakainya. 

Bintang, pria tampan itu bernama 'Bintang'. Dan lagi-lagi aku harus menyukai bintang, tetapi kali ini cintaku tertambat pada bintang yang berbeda. Pada seorang pria tampan dan mandiri, yang sudah memutuskan untuk menjalin hubungan denganku sejak malam perjodohan itu.

"Kamu suka sama bintang 'kan Ra?" 

"Iya, aku suka banget sama bintang sejak kecil. Kamu....." Kata-kataku terputus pada kalimat itu saat tak sengaja mata kami saling menatap. 

"Aku tau dari ayahmu, Ra. Coba deh, liat bintang yang di sana! Cahayanya paling terang ya, Ra?" Ucapnya sambil menunjukanku pada arah bintang itu. 

"Di mana? Aku gak ngeliat tuh," jawabku singkat.

Seolah mengerti tentang apa yang harus dilakukan, ia pun meraih tanganku. Menggenggam jemariku, lalu mengarahkan jari telunjukku pada bintang yang ia maksudkan.

"Tapi, bintang itu masih kalah terang dengan yang satunya, Ra."  Aku menoleh, memperhatikan raut wajahnya saat ia mengatakan hal tersebut. Tepatnya, aku penasaran pada bintang lain itu.

"Apa aku bisa melihatnya juga?" jawabku penasaran.

"Tentu bisa, karena dia ada di sampingmu, Ra" jawabnya sambil membelai rambutku.

Oh Tuhan! Wanita mana yang bisa menahan debar dalam dada saat diperlakukan dengan begitu manja oleh seorang pria yang dicintanya. Aku pun sama, hanya bisa menatap ke dua bola mata yang berada di balik kacamatanya. Melempar senyum semanis mungkin, dan berusaha kuat untuk menyentuh punggung tangannya yang berada di atas kepalaku.

"Kinara, ini udah makin malam lho. Kamu masuk gih, istrahat!" Ucap Bintang sembari berpamitan dan mengecup keningku.

Baru saja aku merasa ada banyak kupu-kupu yang memenuhi rongga dadaku hingga kumerasa sesak. Tapi, Bintang tak membiarkanku merasakan kebahagiaan itu lebih lama lagi.  Ingin sekali aku melarangnya untuk pulang, tapi semuanya tidak akan terjadi, selama kami belum ada ikatan apapun.

Semerbak bunga mawar dan anggrek di teras rumah semakin mewangi saat hari mulai gelap gulita. Embusan angin malam pun  terasa dingin hingga menusuk pori-pori kulit. Padahal, beberapa menit sebelum Bintang berpamitan, tubuhku masih terasa hangat. Ah, beginilah rasanya saat sedang jatuh cinta.

Waktu memang telah menunjukkan pukul 22:30 WIB, tapi mataku masih belum mengantuk sama sekali. Rasanya, aku masih ingin membayangkan semua hal yang terjadi di malam ini antara aku dan Bintang. Tapi, suara katak yang bersahutan di selasar rumah tetangga membuatku kesal. OMG! Mengusik sekali rasanya. 

"Oke. Tunggu aku kawan!" Gerutuku pada katak sialan itu.

Praang.........

"Siapa yang main lempar-lempar?" Teriakan tante Mirna mulai terdengar ketika batu yang kulempar mengenai sasaran yang salah. Aku buru-buru melarikan diri dan masuk ke dalam rumah sebelum tante yang bawel itu menyadari bahwa akulah yang melempari jendela kacanya dengan batu. 

"Dasar kodok sialan. Dilempar batu malah batunya nyasar!" Aku memaki sembari berjalan gontai meninggalkan halaman rumahku.

Namun, aku terkejut ketika sampai di ruang tamu. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku melihat ayah terkulai lemas di atas lantai dengan mulut yang sudah berbusa.

"Ayah bangun, ayah! Banguuun!!" Aku berusaha menahan tangis sembari, menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Berharap ayah akan segera membuka kedua matanya. Tapi, ayah tak kunjung bangun.

Aku segera berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan pada tetangga. Menggedor satu persatu pintu gerbang rumah mereka, tapi, tak satupun dari mereka yang mau menolong ayahku.

Sampai akhirnya, aku berlari ke rumah tante Mirna. Menggedor pintu rumahnya dengan isak tangis keputusasaan. "Tante, tolong ayah tan! Bawa ayah ke rumah sakit..." 

Aku memang masih ketakutan perihal kaca yang pecah. Tapi aku butuh bantuan tante Mirna. Aku bersedia mengganti dengan uang seharga kaca itu, asal ayah bisa diselamatkan.

"Ayahmu kenapa? Kamu jangan menangis Kinara, ayo kita bawa ayah ke rumah sakit. Biar tante panggil om dulu ya?" Seketika itu otakku seolah berhenti bekerja saat mendengar ucapan tante Mirna. Ini bagaikan mimpi yang indah. 

Aku tidak menyangka, tante Mirna sebaik ini orangnya. Kupikir dia orang yang sangat angkuh. Ah, apa yang kupikirkan, dasar bodoh! Aku hanya perlu meminta bantuannya agar ayah segera tertolong.

Tidak lama kemudian, om Ardi sudah mengendarai mobilnya lalu dengan segera ia parkirkan mobil itu di depan rumahku. Sedangkan tante Mirna langsung berlari bersamaku menuju ruang tamu. Dan, tak lama dari itu om Ardi datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Dengan sigap ia berusaha membantuku dan tante untuk membopong ayah.

Diperjalanan, tante Mirna mengelus rambutku dengan sabar. Tatapan matanya sangat menenangkan. Aku sedikit tenang berada di antara orang-orang baik seperti tante Mirna dan om Ardi.

Namun kegelisahanku akhirnya kembali, saat aku menatap wajah ayah. Keriput yang mulai bertambah di dahinya menandakan bahwa ayah telah lelah. Mungkin itu benar. Karena, sejak bunda meninggal, ayahlah yang mengurus semua keperluanku sejak usiaku masih 5 tahun. 

"Tante, maafin Nara, ya? Nara tadi gak sengaja mecahin jendela kaca tante dan om," aku sangat merasa bersalah. Berkata jujur mungkin bisa memperbaiki semuanya. 

"Tante tau, Nara. Gak papa, kami bisa menggantinya lain kali. Tapi, janji jangan diulangi ya!" 

Betapa senangnya aku mendengar perkataan tante Mirna. Selama ini aku salah menduga tentang keluarga tante Mirna. Ternyata, dia dan keluarganya adalah orang yang sangat baik. Mungkin, selama ini aku terpengaruh oleh para tetangga yang membicarakan gosip murahan tentang keluarga tante Mirna. Pada akhirnya, merekalah yang angkuh dan tidak mau saling menolong.

"Kinara? Kok ngelamun? Tante udah memaafkan kok, sayang." Aku terpaku, memikirkan banyak hal yang saling melintas di kepalaku. 

"Iya tante, terimakasih..." Aku mencoba tersenyum, meski hatiku tidak. 

Belaian tangan tante Mirna di kepalaku membuatku terbuai. Apakah seperti ini rasanya ditenangkan oleh seorang ibu? Aku benar-benar tidak pernah merasakannya lagi, sejak 16 tahun yang lalu.

"Nara, bangun....." Ucap tante Mirna sembari menggoyangkan lenganku. Ah, bisa-bisanya aku tertidur dengan pulas di pangkuan tante Mirna.

"Maaf, tante gak bangunin kamu. Tadi om Ardi yang angkat kamu buat tiduran di pangkuan tante. Soalnya kamu kayaknya lelah banget."

"Makasih, tante. Nara gak tau harus balas dengan apa," aku menggenggam jemari tante Mirna yang hangat.

"Oh iya, ayah sudah ditangani dokter. Sekarang kamu bisa masuk temui ayah." 

Aku segera berdiri meninggalkan tante. Berjalan dengan cepat menuju kamar nomor 04, di sanalah ayah di rawat. Di dalam ruangan, sudah ada om Ardi yang menjaga ayah. Ia tersenyum saat aku masuk ke dalam ruangan. Dan, tak lama kemudian ia pergi meninggalkanku.

Aku terisak, melihat tubuh ayah yang tak berdaya di atas bad buruk rupa ini. Belum lagi dengan tubuh ayah yang dipenuhi dengan semua alat bantu, agar ia dapat bertahan hidup.
Aku benar-benar benci melihat semua ini. Rasanya, ingin sekali kubakar semuanya. Tapi, dengan semua alat ini juga, ayah akan diselamatkan.

Waktu terus berjalan, tidak lagi gelap di luar sana. Matahari mulai meninggi. Tante Mirna dan om Ardi sudah pulang sejak semalam. Aku hampir putus asa, sebab ayah tak kunjung bangun. 

Dering telpon berulang kali berbunyi. Tapi, aku tak menghiraukannya. Satu-satunya pemilik nama yang tertulis dari semua panggilan tak terjawab itu adalah 'Bintang'.

Aku tidak ingin menjawab panggilan dari siapapun. Bagiku, yang terpenting adalah kesembuhan ayah. Tapi, tiba-tiba ada satu pesan mengerikan yang masuk ke dalam ponselku.

"Kamu gak perlu hawatir, Nara. Yang perlu kamu hawatirkan adalah hidupmu setelah ini, karena kamu akan kehilangan ayah, rumah, dan seluruh hartamu. Ayahmu tidak akan pernah bisa bangun lagi setelah meminum kopi yang aku buatkan  khusus untuknya, semalam."

Seketika ponselku pun terlepas dari genggaman. Hidupku seolah berakhir saat membaca pesan singkat itu. Mataku berkunang-kunang. Tak ada lagi harapan setelah semuanya. Aku pun membiarkan orang-orang di sekelilingku berlarian. Mencari peralatan medis, dan berusaha menyelamatkan nyawa seorang pasien.
Otakku benar-benar telah berhenti bekerja jika semua keadaan ini terus menekanku.

"Ayah, bangunlah ayah. Kita perjuangkan semua hal yang kita miliki." Aku masih menangis sembari menjambak rambutku sendiri.

Di ponselku masih terlihat nama seorang lelaki penghianat yang ingin sekali kuhabisi nyawanya. Bintang. Tega sekali dia menghancurkan keluarga kecilku. Dia sangat picik. 

Tiga hari yang lalu ayah memang memberinya wasiat. Dan, bodohnya aku adalah membiarkan semua hal itu terjadi tanpa ingin tahu sedikitpun. Sampai akhirnya, sekarang kusesali semuanya. Menyesal karena telah membiarkan ayah memberikan kepercayaan tentang wasiat itu pada lelaki pecundang seperti Bintang. 

Semua yang ayah berikan padaku, tidak akan pernah sampai. Kecuali ayah terbangun dan mengambil haknya kembali.

Tapi, semua tidak akan mungkin. Aku telah habis. Ayah sudah pergi. Matanya tidak akan terbuka lagi. Dokter dan perawat di rumah sakit ini sedang mengikat beberapa bagian tubuhnya. Menandakan bahwa sepuluh menit yang lalu, ayah tidak bisa diselamatkan.
Iya! Lebih tepatnya adalah saat aku menerima pesan singkat dari Bintang.

"Apa kamu gak sekalipun suka sama bintang?" Di tengah-tengah keputus asaanku, kukirimkan pesan yang sejak dulu ingin kutanyakan padanya. 

Entah kebodohan macam apa yang menyelimutiku. Tapi, setidaknya setelah ini aku bisa lebih percaya, bahwa lelaki yang kukenal beberapa hari ini adalah orang yang jahat.

"Aku tidak menyukai bintang. Aku menyukaimu, tapi lebih menyukai hartamu!" Jawabnya singkat.

Nafasku sangat sesak membaca balasan darinya. Dunia ini tidak adil! Aku benar-benar membenci bintang. Bintang di langit, juga Bintang yang pernah berkata manis padaku. Aku tak ingin lagi mengenang semuanya! Semua tentang bintang adalah hal yang menyakitkan.

Esok, aku akan kembali untuk merebut semuanya lagi. Semua yang harusnya kumiliki. Bintang, tunggu pembalasanku!

Comments

  1. Wagelaaseh Bintang kok jahat, padahal romantis heuheuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baahh kamu tuh dek­čśétertipu melulu kwkwkw

      Delete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.