Dendam

Pic—viva.co.id
                               ((Semua berawal dari ilusi))


Aku sangat menyukai bintang. Sama seperti malam ini, langit tak lagi gelap. Ada ribuan bintang di atas sana. Cahayanya tak pernah membutakan mataku, pun dengan bulan yang bulat dengan sempurna. Tuhan memang begitu adil, memberiku kesempatan untuk melihat semua keindahan ini setelah banyak hal yang kulalui.

Azma, itulah namaku. Tepatnya nama keduaku setelah nama asliku diganti. Panjang ceritanya jika harus kuceritakan pada dunia. Semua yang terjadi memang seperti ilusi, atau lebih cenderung seperti ingin membuat diriku nampak kejam. Semua mengalir begitu saja seperti kutukan.

Aku tidak ingin menyalahkan takdir, karena semua adalah kehendakNya, yang tidak bisa dipungkiri. Tapi, jika aku boleh meminta, aku tidak pernah ingin memiliki nama ini.

Malam mulai larut, embusan angin semakin dingin. Dedaunan pun mulai bergoyang melambat. Suara nyanyian katak yang saling bersahutan sebelumnya pun tak lagi terdengar. Tiba-tiba suasana malamku berubah begitu saja. Sunyi dan membuatku berdebar.

Di teras rumah sebelah, tepat di depan pintu Mbok Madjem. Aku melihat seorang anak kecil. Dia mengenakan gaun berwarna biru muda. Matanya indah, dia menatapku dengan senyuman tipis. Aku tidak mungkin salah melihat, meski jarak kami terbilang sedikit jauh.

Lampu-lampu jalanan dan juga halaman rumah Mbok Madjem begitu terang. Memperlihatkan keanggunan gadis mungil itu. Jika bisa kutebak, mungkin usianya masih belasan tahun. Dia mengenakan sepatu balet berwarna putih. Gaunnya berkerlip, seolah banyak bintang yang menghiasinya. Pesonanya begitu memikatku.

Namun tak lama kemudian dia menghilang, entah kemana. Kepergiannya digantikan oleh seorang wanita paruh baya. Rambutnya panjang hingga menutupi punggungnya. Di genggamannya ada sebilah pisau. Dia berjalan terseret, mendekat ke arahku.

Tak sengaja jemariku menyenggol secangkir kopi yang sedari tadi kudiamkan di atas meja, dan membuatnya  tertumpah. Detak jantungku mulai tak beraturan. Ini sangatlah konyol. Kemana perginya gadis itu, apakah aku tak menyadari bahwa wanita paruh baya itu menikamnya dengan sebilah pisau. Ah, tidak mungkin semua itu terjadi. Bodoh! Aku memang bodoh.

Dan, lebih bodohnya lagi kakiku tidak bisa bergerak. Di saat genting seperti ini tulang belulangku seolah mati. Sedangkan suhu tubuhku mulai dingin, pandanganku mulai  buram. Aku berusaha mencari celah agar bisa melarikan diri. Ah, rasanya seperti sedang dihadapkan dengan setan.

Wanita itu, dia semakin dekat denganku. Aroma hanyir, bau darah dan busuk mulai menyeruak, menusuk penciumanku. Belatung-belatung putih berjalan dengan cepat di wajahnya, seolah berebut daging untuk disantap. Bekas darah yang sudah mengering terlihat jelas di pelipisnya. Wanita itu benar-benar kotor.

Rambutnya yang panjang terkesiap, kini mulai menutupi wajahnya. Tapi sungguh aneh, dia memiliki dua wajah. Atau, kepalanya dapat berputar hingga menghadap lurus dengan punggugnya? Ah, terserah bagaimanapun wujudnya, dia bukanlah manusia.

Suara burung hantu tak membiarkanku brpikir untuk mencari jalan keluar. Bulu kuduk yang sudah berdiri, nafas mulai tersengal, dan tubuh yang mulai gemetar, semua memperburuk keadaan. Aku benar-benar mati kutu di hadapan wanita kotor ini.

Perlahan wanita itu mendekatiku dengan langkah yang terseok-seok. Tangannya mengarahkan pisau digenggamannya ke ulu hatiku. Siapa yang bisa selamat dari kematian jika keadaannya seperti ini. Oh Tuhan, aku sangat berharap hidup dalam keadaan mematikan ini.

Dingin. Kakiku terkena tetesan nanah yang terus menerus keluar dari lengannya. Ingin sekali aku muntah, tapi tak kuasa kulakukan hal itu. Khawatir wanita bedebah ini akan membunuhku, seperti anak kecil yang hilang itu.

Dingin, kali ini bukan kakiku, tetapi ulu hatiku. Pisau tajam miliknya berhasil melubangi pakaianku, hingga pisau itu menyentuh langsung kulitku. Mataku terbelalak, menahan rasa takut. Antara takut mati dan takut disiksa oleh wanita itu.

"Tidaaaak!" Aku menjerit sembari menggenggam pisau yang ditekan olehnya. Namun semua berakhir. Wanita itu pergi entah kemana, ia hanya meninggalkan luka di jemariku. Darahku menetes, tapi tetesan nanah dikakiku menghilang begitu saja.

"Azma...." Sayup-sayup aku mendengar sebuah panggilan. Aku menoleh sembari membersihkan lukaku, dan tetap membiarkan secangkir kopiku tumpah berserakan di lantai.

"Siapa kamu?" Aku bertanya ketakutan.

Anak itu, si gadis manis yang kulihat di depan pintu Mbok Madjem. Dia menangis di atas rak sepatu yang terletak di teras rumah,  tepat di sebelah kanan dari posisiku berdiri.

"Kenapa kamu nangis?" Masih dengan menahan rasa sakit dari sebilah pisau. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa anak itu adalah manusia. Meski aku tidak tahu darimana kedatangannya.

Suara gamelan dan seruling tiba-tiba terdengar bersahutan. Suara-suara yang khas dengan dunia misteri seperti di film-film. Membuatku terus berpikir bahwa malam itu akan terjadi kisah pembunuhan yang tragis.

Saat aku masih berpikir, tentang kejanggalan-kejanggalan itu, tiba-tiba aku tersadar akan satu hal. Anak kecil itu, dia sudah berada di sampingku, beridiri tegak mencengkeram bahuku. Dia berbisik dan mengatakan bahwa pamanku sedang dalam bahaya.

"Siapa kamu, darimana kamu tau?" Kucoba menanyakan kebenaran pada gadis kecil itu.

Malam yang sunyi dan mengerikan, aku benar-benar ketakutan. Mbok Madjem, dia adalah istri dari pamanku, om Agus. Apa dia akan membunuh pamanku yang pemabuk itu? Ah, rasanya tidak akan mungkin. Aku tahu, meski paman suka bermain wanita dibelakang tanteku yang sudah tua itu, tapi ia tidak akan tega menghabisi nyawa suaminya sendiri. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin membunuhnya.

Atau, jangan-jangan bukan Mbok Madjem yang akan membunuh om Agus, tetapi anak laki-laki tertuanya itu. Ya, seingatku dua hari yang lalu om Agus baru saja adu mulut dengan Budi, putra tertuanya yang juga doyan wanita. Entah keluarga macam apa mereka itu. Aku tak peduli, yang harus kulakukan adalah menyelamatkan pamanku.

Tanpa pikir panjang, tak peduli keadaan, aku segera lari secepat mungkin dan membiarkan darah tetap menetes dari jemariku. Tapi, meski rumah Mbok Madjem tidak terlalu jauh,  entah mengapa rasanya sangat lama untuk sampai di rumahnya. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan ini.

Keadaan pun semakin mencekam setelah itu. Ketika nafasku masih tersengal-sengal, kedua mataku menatap pemandangan yang mengerikan. Wanita paruh baya itu lagi-lagi muncul dengan sebilah pisaunya. Kali ini dia membelakangiku, berjalan santai menuju rumah Mbok Madjem. Di belakangnya, ada sosok anak kecil berambut pirang. Dia mengenakan baju putih panjang yang sedikit cantung. Lengannya terlihat basah, dengan darah.

Anak kecil itu tidak memiliki sedikit rambut, dan memperlihatkan sebagian kepalanya yang terkoyak, hampir tak ada kulit yang menutupi dagingnya. Tetesan-tetesan darah dari kepalanya terlihat sangat jelas di bajunya. Semua terlihat menjijikkan sekaligus mengerikan.

"Mereka akan membalasnya." Tiba-tiba suara gadis mungil itu kembali terdengar. Dia ada dibelakangku.

Namun, kali ini dengan raut wajah yang berbeda. Gaun biru mudanya berubah menjadi kemerahan. Matanya mengeluarkan darah. Mulutnya memar dan di lehernya ada bekas goresan benda tajam.

Satu detik kemudian gadis itu menghilang, dan segera bergabung dengan dua sosok yang sedang berdiri mematung di depan rumah Mbok Madjem. Dan, saat aku ingin menjerit meminta tolong, tiba-tiba om Agus keluar dari rumahnya. Ia tengah mengenakan jam tangan dari selingkuhannya. Sedangkan Budi, dia mengikuti langkah kaki ayahnya. Keduanya telah siap untuk pergi meninggalkan Mbok Madjem sendirian lagi.

"Paman hati-...." Kata-kataku terputus ketika ingin memberi tahu paman perihal tiga wanita itu.
Mulutku tiba-tiba terkunci, tak mampu kuberkata-kata. Aku hanya bisa menyaksikan kejadian aneh itu.

Mereka membawa pamanku dan juga anak tertuanya. Wanita paruh baya itu berjalan sembari menatapku dengan tatapan tajam, membuatku tak dapat berkutik. Sedangkan gadis mungil dan bocah pirang itu menarik dan menyeret kaki kedua saudaraku.

"Apa salah mereka? Lepaskan!" Pintaku pada wanita paruh baya.

Namun yang kudapat bukan sebuah jawaban. Wanita itu malah melemparkan pisau yang ada digenggamannya pada lengan paman. Mereka bertiga, wanita paruh baya dan dua bocah mengerikan itu menggerayangi tubuh om Agus dan Budi. Mereka disiksa tanpa ampun.

Lidah si wanita paruh baya itu terjulur, meneteskan liur yang bercampur darah pada dada paman. Giginya terlihat tajam, dan dari lubang hidungnya keluar belatung-belatung yang sudah siap menghabiskan daging mangsanya, dan belatung itu berjatuhan di wajah om Agus dan Budi.

Oh Tuhan, siksaan macam apa ini. Mengapa semuanya merusak malam berbintangku. Padahal yang aku ingin, malam-malam penuh bintang ini berlalu dengan manis, tidak tragis seperti ini.

Namun semua berjalan tak begitu lama. Setelah menggerayangi tubuh om Agus dan Budi dengan kuku-kuku hitam nan tajamnya itu, mereka segera menyeret keduanya. Tak membiarkan keduanya berusaha melarikan diri.

Suara-suara jeritan dan permintaan tolong terdengar sangat jelas, dan mereka mulai menjauh. Ketiga setan keji itu menyeret om Agus dan Budi, membawanya jauh dariku. Tapi aku masih bisa melihatnya. Cakaran demi cakaran, gigitan dan juga hujaman sebilah pisau, semuanya berpadu, membekas ditubuh om Agus dan Budi, sebelum akhirnya mereka mati.

"Tidaaakk!" Aku menjerit melihat kenyataan pahit itu. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu melayang, tubuhnya terombang ambing oleh angin yang semakin kencang. Baju putihnya terlihat lusuh, aroma busuk yang menyeruak pun kembali tercium. Bocah-bocah kecil itu pun ikut beraksi. Mereka berlarian, sembari cekikikan mengelilingiku.

Tak lama kemudian kepalaku menjadi sangat pusing, tepat saat menyadari semua kejadian aneh itu. Dan, sesaat kemudian wanita paruh baya itu menyekikku. Membuka mulutnya lebar-lebar seolah ingin menelanku. Bocah-bocah kecil itu menarik kakiku, hingga aku jatuh terlentang.

Aroma bunga mawar tercium sangat mewangi, suara gamelan dan seruling saling sahut menyahut. Nyanyian burung hantu terhenti. Lambaian daun-daun tak lagi terlihat. Yang kutahu, duniaku gelap. Darah membasahi wajahku, juga tersisa dengan indah di pakaian yang kukenakan.

Jemariku masih kaku, memegang sebilah pisau berlumur darah. Tulang-tulangku ngilu, seolah semua beradu untuk saling mematahkan.  Detak jantung yang tidak bisa beraturan sedari tadi, di tambah tarian belatung kecil yang berlomba di atas kaki dan lenganku, semuanya menyadarkanku atas kejadian aneh di malam ini.

Aku baru menyadari, bahwa kematian om Agus dan Budi adalah buah tanganku. Aku yang menghabisinya, membunuh dan membiarkan mayatnya tergeletak di ujung jalan. Menjadikan Mbok Madjem menjadi seorang janda tua. Dan, membiarkan Herman menjadi anak tunggal setelah ditinggal mati kakaknya.

Aku jahat. Tapi aku sangat membenci dua lelaki itu. Mereka yang membunuh ibuku dan kedua adikku. Wanita paruh baya yang memergoki perbuatan hina mereka. Juga kedua adikku yang berusaha membantu menyelamatkan mereka dari perampok, yang akhirnya mati terhunus dan tertabrak mobil.

Hayalanku yang dipenuhi dengan dendam, membuatku bersekutu dengan setan. Dengan sosok-sosok yang menyerupai orang terkasihku. Mereka membuatku membunuh om Agus dan juga Budi dengan mudah.

Sejak saat itu, aku menjadi orang yang aneh. Seorang wanita yang berganti nama menjadi Azma. Dan menjadi wanita dengan kepribadian ganda, dengan sisa darah yang telah mengering dijemariku dan tak akan pernah hilang, untuk selamanya.

Comments

  1. Sadis juga, Budi sama Agus sampai dicincang jadi ngeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm jatahnya gitu😅akan ada jatah buat yg lainnya kwkwkw

      Delete
    2. Waduh masih ada kelanjutannya nih? Minggir dulu ahh

      Delete
    3. Ahaha ya kan bergilir lah tumbalnya kwkskw😂😂minggir aja, kan gak akan tau jadinya😂

      Delete
    4. Iya minggir dulu selama dua Minggu kalau udah adem batu balik lagi.

      Delete
    5. Lah mana tau kapan ademnya kwkw..yakin gak penasaran?😎😂

      Delete
    6. Masa iya dua Minggu belum adem.

      Yakinlah

      Delete
    7. Hahaa gak akan adem bang👻👻👻ahaha liat ajah

      Delete
    8. Kalau dua dekade gimana, masa belum adem juga?

      Delete
    9. Ahahaha udah nenek" itu mah pasti ademnya😂😂

      Delete
    10. Udah lumutan dia mah..😀

      Delete
    11. Ahaha udh ancur sekalian😂😂

      Delete
    12. Emot gak terdeteksi😂😂

      Delete
  2. Ah biasa aja mas, lebih sereman kalo tanggal tua ga ada duit di dompet..😑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat nih ceritanya kwkwkw.. Mau duit? Sni om.. Ada di bank kwkwkw

      Delete
    2. Ga lah, masih ada warung buat ngutang kok..😂

      Delete
    3. Ahaha tukang ngutang juga toh ternyata😂😂

      Delete
    4. Kalo dikasih utang itu tandanya masih dipercaya orang, dari pada ga pernah ngutang karena duitnya banyak..😂

      Delete
    5. Lho aku duid banyak kan gak pelit. Ngutangin om Agus aja sampe tak terhitung bilangannya😎 tapi gak dbyar"😏😂

      Delete
    6. Hoax ga tuh? Ntar aku Dateng beneran mau ngutang...😂

      Delete
    7. Lah ya beneran atuh😎dolar duidnya💰💸💸

      Delete
    8. Mau kejatohan dolar?😎

      Delete
  3. Harusnya postingnya malam Jum'at pas tengah malam nih..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adalagi lah smoga maljum hihi😂😂mau jdi korbannya kan?😅

      Delete
    2. Boleh, tapi yang serem banget jangan setengah serem, nanggung kalau setengah serem.. 😂😂

      Delete
    3. Oke bsok insya allah full seremnya😎ahahaha jangan bilang serem kalo belom lihat hasil ngacanya abang👻👻👻

      Delete
    4. Jangan besok, besok baru malam Rabu..hihihi

      Delete
    5. Lah iya, maljum insya allah post horor. Malming post oleng😅😂

      Kita cincang menyincang dl kwkwkw

      Delete
    6. Nah gitu baru bener jadi ngga sabar nunggu post-nya, yang oleng..

      Delete
    7. Kwkwkww lah knpa emang? Oleng kan gaje bang😂😂hihi

      Awas aja nanti gesrek👻👻

      Delete
    8. Justru yang gaje itu yang seru daripada yang horor, serem .

      Delete
    9. Cowok kok serem sama horor😂kwkwkw... Pdhal gak nakutin sama sekali😅

      Delete
    10. Biar aja emang kenapa ngga boleh ya? Yang namanya horor tetep aja serem.. ,😝

      Delete
    11. Bahah boleh sih, cuma agak gimana yak 😂cowokkan harusnya pemberani👻👻
      Gak serem. Lebih serem liat ulat 😐

      Delete
    12. Lebih serem lagi liat atas saya..😂

      Delete
    13. Hahaha maksudnya bang El dan yg lainnya?


      Woro".. Nih om Agus ngenyek yg komen di atasnya... Bang El dkk, katanya serem😂😂😂ahahah

      Delete
    14. Berani kalau sama yang lain asal jangan yang horor..seremmmm

      Hajar aja tuh mas Agus.. 😂😛

      Delete
    15. Nah, terus kalo post horor maljum, emang berani baca? 😰😰

      Jihihihi ayo hajar, masukin ke dlm sedotan, terus masukin botol😂

      Delete
    16. Halah, katanya berani sama yang lain, sama rongdo aja ga berani..😂

      Delete
    17. Rongdonya udh pergi om.... Samperin aja sana😅

      Delete
    18. Ngga, bacanya pas udah pagi..hehehe

      Rongdo lagi cape deh .

      Delete
    19. Bhahaha mosok pagi. Atuh percuma minta maljum postnya😂tp gak berani baca kwkw

      Tau tuh, om Agus dalangnya😅

      Delete
    20. Sama cerpen horor kok takut. Takut tuh kalo tanggal tua ga punya duit..😑

      Delete
    21. Gak punya duit kok takut.
      Takut tuh kalo nyebaf hoax😎

      Delete
    22. Lebih baik takut cerita horor.. hehehe

      Delete
    23. Ahahaha takut sama hantunya kali ah👻👻

      Delete
    24. Sama rongdo eh hoax kok takut.

      Delete
    25. Hemm tulisan blur, maaf tidak terbaca😎😎👻

      Delete
    26. Syukurlah pulsa aman, tadinya nawarin kirim pulsa, ternyata ga kebaca..😄

      Delete
    27. Aku orang khaya, gak butuh dikirimin plsa👻👻👻

      Delete
    28. Kaya kasbon di warung hehehe..

      Delete
    29. Hahaa gak lah. Khaya kwitansi bekas bayaran yg gak bisa dicairkan😂

      Delete
  4. Ijin komentar dulu, bacanya ntar kalo ada waktu luang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee iya udah gak papa😅makash dh mampir

      Delete
  5. Horeeeee.....Aku masih hidup..yeeee...

    ReplyDelete
  6. Berarti Budi itu Anaknya Om Agus ya? Dan Mbok Madjem sbg ibunya Budi, yg akhirnya jadi rongdo karna kamu bunuh. Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa iya bener.😂sama-sama berbahaya😅
      Oh ketahuan. Ternyata rongdo itu artinya janda ta?

      Hooo pada bhongin aku nih

      *emot tutup muka

      Delete
    2. Waduh...keceplosan nih, bisa di marahin sama Agus ntar, wah bahaya

      Delete
    3. Hemhhh kalian membohongi anak kecil😭😭😭😎

      Delete
    4. Fbku di konfirmasi dulu ah...@Tabin
      Ya udh cup2 jgn marah jgn nangis . ntar lo jd jelek lho

      Delete
    5. Sungguh ter-la-lu Budi, begitu kata bang haji Rhoma.

      Nitip cerpen juga ah, sereman mana sama ini..

      Horor sebuah Tas 😱😱😱

      Delete
    6. Oke sebntar dibaca hihi syukak yg horo". Jd yg serem adalah, mergokin om Agus ngibul soal rongdo😐😐

      Delete
    7. Idih aku ga ngibul, rongdo itu makanan anget kalo musim hujan (tetep Keukeh bilang gitu..😂 )

      Delete
    8. Lah yg laen dh pda keceplosan. Rongdo mah bukan itu artinya😎mr.hoax kwkwkwkw

      Delete
    9. Oh, pantesan pada suka ngomongin rongdo ternyata rongdo....ketauan juga akhirnya.. 😂😝

      Delete
    10. Tau tuh pda bahasin rondo. Hemmm pantsan aja betah. Perlu dimasukin botol beneran kayaknya bang😅😎

      Delete
    11. Jangan dimasukin dalam botol ke dalam kuali aja yang ada air panasnya..rongdo itu mungkin dari bahasa Jawa kali ya?

      Delete
    12. Ahahaha kita tumis aja sekalian yak😂😂

      Kalo bahasa jawa, bukan rongdo atuh, tapi rondo.

      Makanya aku bingung. Mosok rongdo😰dan ternyata om Agus nge-hoax😂😂

      Delete
    13. Ya, sekarang kan jaman now. Bahasanya jadi aneh, kali jadi keleeuuusss..😂

      Delete
    14. Bhahaha ya tapi gak nge-hoax juga kelues😂😂

      Delete
    15. Lah ternyata bener dari bahasa Jawa berarti bintang bohong padahal udah tau rongdo itu apa 😏😏

      Delete
    16. Ih ih aku beneran gak tau bang.
      Setau aku mah rondo. Bukan rongdo. Kupikir rongdo itu bahasa lain, bukan bhasa jawa..

      Hemm om aguuuuuuusss👿👿👿😈😈dia nh dalangnya. Ayo masukin kuali aja😎😂😂

      Delete
    17. Halah, udah ngaku aja , biar urusan jadi gampang tang..😑

      Delete
    18. Udah ngaku aja mentang mentang saya ngga tau bahasa Jawa dibohongin terus, ngga asik banget 🙄😏

      Delete
    19. @El, ihh knpa aku jdi kena sarasan😫aku juga gak tau rongdo kok. Cius😪 makanya slama ini kepo...

      Hemmm om @Agus, 😈😈bener-bener perlu dimasukin kuali kayaknya. Aku jdi kena sarasan😪

      Delete
    20. Btw, 'tang' itu Bintang? 😈😈jelek banget

      Delete
    21. Iya tang, ngaku aja ngapah sih. Kasihan tuh mas her nangis sampai ingusnya keluar karena dibohongi..😑

      Delete
    22. Hishh aku gak ada sangkut pautnya😰om agus lempar kaki sembunyi tangan dibalik batu tuh😈😈😈

      Delete
  7. Kebiasaan deh nulis cerpen kayak gini _- ngeriii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe kan udh lama bangt dek gak nulis horor. Ini juga dadakan. Jdi gak bsa nyincang😔kamu tak tumbalin lagi yak di Asrama Hagers👻👻

      Delete
  8. waduh bisa dibikin skenario film hor nih mbak suasana mencekamnya dapat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe makash om. Masih jelek bangt. Hihi
      Ntar klo jdi skenario, yg nonton kabur hihi

      Delete
  9. Terus ..., selain om Budi dan Agus yang berakhir tragis, siapa lagi yaa yang kira-kira mainin gamelan ?.
    Rongdokah 🤔😨 ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg mainin gamelan mah hantunya👻👻👻
      Yg tragis? Semua bakal kebagian kok. Ada jatahnya kwkwkw tunggu aja tiba saatnya bang😅

      Delete
    2. Huwaaaaaa ...
      Serem yaaaaa ..
      Jadi ini ceritanya kayak teror, semuanya dapat giliran 😨😱

      Pada kursus dimana tuh ya para lelembut, kok pinter mainin gamelan ..
      Jangan~jangan main marching band juga bisa 😁

      Delete
    3. Hahaha iya. Teror terang"an kwkeke...

      Huaamm.. Kalo jiwa ketjamku dh balik, aku bisa sering ngehoror kwkwkw tentunya kalian jd tumbal😂😂

      Hahaha kursus di tempatku dong. Aku kan gurunya kwkwkw

      Delete
  10. Untung gak ada video dan gambarnya, jadi agak berani bacanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi lah kan gak nakutin bang��paling kaget doang kalo ada videonya mah��

      Delete
    2. Haha iya, berawal dari kaget terus penasaran deh sama lanjutannya..

      Delete
    3. Lah biasanya kalo dh kaget malah jd males kwkw.

      Smoga aja kapan" bsa ngejutin hihihj

      Delete
  11. aku ingat pernah nonton film mirip skenarionya dengan cerita ini Keluarga Tak Kasat Mata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah adakah? Hihi aku malah gak tau. ... Cuma asal nulis aja hehe

      Delete
    2. Jangan² penulis skenario nya nyontek dari mbak..😂

      Delete
    3. Bhahaa otakku keculik.. Kaya mata pas kena jari telunjuk kan? Keculik😂😂

      Delete
  12. Kenapa Judulnya nggak dendam Rongdo...Atau Gamelan kematian..😱😱😱..😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo ya judul itu buat bang satria aja kapan"... Oke kan😎

      Delete
  13. Ga boleh protes kang, ntar dimasukin ke kuali lho..😑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya iyak. Ini kuali udh disiapin. Buat nyemplungin om Agus👻

      Delete
    2. Nyemplung nya bareng atas saya kan, asyikkk..😀

      Delete
    3. Ahaha jelmaanku banyak. Nanti sama jelmaanku aja. Biar makin remuk di dlm kuali👻😎

      Delete
  14. woiiii teman teman diatas rajin amat komentnya...dapat honor yachhhh..? bagiiii dong......hahahah.

    ohy.... Kata " Mebgering " di akhir artikel dapat dari mana ? dari Planet Pluto... yach ? :)

    semoga jadi novelis terkenal yach..... 😃😅😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahaha mereka dpt uang tips .. Tips ngabisin uang😂😂


      Wuih jeli banget bang. Pdahal aku dh pake kacamataku lho pas nulis. Udh 6× aku baca ulang, tapi gak kelihat. Ihihi bentar deh aku rubah ehehe


      Aamiin. Smoga aja hihi

      Delete
  15. wahh..templatenya di ganti nich... kayaknya susah komentnya mbak, sebab mesti berantem dulu dengan Capcath....😃😅😆

    ReplyDelete
  16. Iya ini lagi diatur supaya komenannya bsa tetap kayak yg kemarin bang hehe

    ReplyDelete
  17. wih habis ganti template. kolom komentarnya di-direct ke window lain nih.
    masukan: lebih baik kolom komentarnya berada pas di bawah post, biar pengunjung bisa scroll ke atas membaca tulisan lagi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya awalnya emang gtu. Kemarin lg dibenerin doang. Seblom dibenerin, tampilannya kaya begini kok (yg sekarang). Cuma kmaren pen ganti template aja dan ngaturnya agak susah supaya bsa sesuai dg hp aku hehe
      Makash masukannya

      Delete
  18. Iya nih bang, lagi diatur" semalem. Trus blm sempet benerin kolom komentar. Maunya tetp kaya kemarin kolom komennya biar asik.. Cuma waktunya blm ada hehe. Soalnya kalo pagi sampe sore harus nguli dulu hehe

    ReplyDelete
  19. Ga enak, masa komentar balesan jadi ngaco.

    Ayo balikin lagi kayak kemarin, kalo ngga ntar di demo berjilid² nih. Mana pake capcha lagi.😏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha maaf om Agus. Nh udh balik lagi kok😂

      Delete
  20. Aku mau balas langsung di kolom bawah kok ngga bisa ya ?.

    ReplyDelete
  21. kalo aku sih bukan tipe pendendam, cuma tipe orang yang akan selalu inget kesalahan orang lain aja

    mwehehehe *ketawa jahat*

    ReplyDelete
  22. Kek judul lagu 'Dendam'...wkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.