Tentang Impianku


Pic—wallpapersite.com

Ini adalah kisahku. Di mana aku menjadi pelaku dari impian yang sejak kecil kuidam-idamkan.

Aneh, mungkin saja. Bagaimana tidak, seukuran anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah berkeinginan untuk menjadi seorang penulis.

Aku bahkan tidak mengidolakan seorang penulis saat itu. Aku juga tidak begitu mengerti tentang menulis. Yang aku tahu, hanya perlu sekolah, belajar, membaca dan berusaha untuk menulis seperti orang-orang yang sudah menerbitkan banyak buku. Seperti buku-buku pelajaran yang setiap harinya kubaca.

Labil, sangat. Anak yang tidak tahu arah bagaimana menulis, apa itu hasil tulisan, seni, karya dan lain sebagainya tetap berkeinginan dan mencoba menulis. Aku selalu mencoret-coret buku catatan ketika ada waktu luang.

Terkadang, ibu selalu memeriksa setiap lembar buku catatanku. Bahkan, ibu selalu menghitung lembar kertas buku catatanku itu. OMG! Benar-benar ketat. Ibuku sangat tidak menyukai buku catatan sekolah yang terlihat kotor. Meskipun hanya coretan-coretan dengan pensil atau pena. Apalagi kalau ada lembaran yang dirobek hanya karena sedikit coretan saja.

Ibuku hanya inginkan anaknya menjadi seorang putri yang rajin dalam hal apapun. Mungkin bisa dikatakan, kehidupan masa kecilku di desa sangatlah ketat. Apalagi, keadaan ekonomi keluarga sangat rendah. Hal tersebut membuatku harus irit dalam menggunakan buku catatan.

Tapi, entah keinginan macam apa yang bisa membuatku tidak mendengarkan nasihat maupun omelan ibu. Setiap hari, aku selalu mencoret-coret buku catatan. Menulis hal yang sama sekali tidak penting. Bahkan aku mencurahkan isi hati dan juga pikiranku di sana. Meski kalimat dan bentuk tulisannya sangat tidak layak untuk dibaca.

Aku hanya ingin menemukan siapa diriku. Apa yang kubisa dan apa yang kupunya. Terkadang, aku sangat takut untuk mencapai impianku sendiri. Ketakutan-ketakutan yang sebenarnya hanya membuatku tak berkembang. Seperti ketakutan tidak bisa mencapai semua impian itu, tidak ada  sarana yang bisa kugunakan untuk mewujudkan semua impian itu.

Sejak kecil, aku hanya punya dua keinginan terdalam. Menjadi penyiar radio, atau menjadi seorang penulis. Sewaktu duduk di bangku Taman Kanak-kanak, aku tidak berbeda jauh dengan teman-teman lainnya. Yang menjadikan profesi dokter, guru, pengusaha, polisi, polwan atau yang lainnya sebagai cita-cita. Aku ingin menjadi dokter anak. Karena aku senang melihat anak-anak.

Namun, karena satu kejadian yang membuatku phobia terhadap darah sejak usia 5 tahun hingga saat ini, cita-citaku untuk menjadi dokter akhirnya tidak dapat kupertahankan. Dan, akhirnya sejak duduk di bangku SD aku menetapkan cita-cita untuk menjadi guru. Dan menjadikan penyiar radio dan juga penulis sebagai impian.

Ah, rasanya konyol sekali jika mengingat semua hal yang pernah aku tuliskan di masa kecil. Setiap kertas-kertas itu terisi curahan. Terkadang, aku menulisnya sambil menangis. Padahal aku sama sekali tidak mengerti makna dari tulisan yang kutorehkan. Dan, hal tersebut berlanjut hingga aku duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah.

Akhirnya aku bebas dari ibu dan bapak. Tapi, bukan bebas dalam artian negatif. Hanya saja aku tidak diawasi oleh keduanya ketika sudah lulus Sekolah Dasar. Aku tinggal di asrama, diasuh oleh seorang guru besar (Kyai) dan para pengurus.

Saat itulah aku memulai untuk membeli buku khusus untuk kujadikan tempat menulis. Yah, mungkin banyak yang mengalaminya di masa pertumbuhan seperti itu. Menuliskan hal-hal yang tidak penting tentang sekolah, pelajaran, guru, atau pekerjaan rumah dari guru yang tidak disukai.

Aku menghasilkan banyak coretan. Menghabiskan banyak buku hanya untuk diisi dengan tulisan konyol. Tapi, impian untuk menjadi seorang penulis tidak pernah surut. Aku senang membaca cerpen, novel, atau dongen yang ada di buku Bahasa Indonesia. Bahkan, aku mencoba membuat cerpenku sendiri. Meski hasilnya, sungguh membuat perut mual ketika membacanya. Ah, peduli apa aku dengan semuanya. Jika impian telah menjadi tujuan yang tertanam dalam jiwa dan raga.

Aku sering sekali menelpon ibuku, mengatakan bahwa uang jajan terpotong untuk membeli buku harian. Buku yang kujadikan sebagai tempat menulis. Ya, ibu hanya menyarankan agar aku tidak boros. Karena hidup jauh dari orang tua tidak semudah apa yang dibayangkan jika tidak memiliki barang sepeserpun uang. Dan, aku menurutinya.

Belajar, belajar dan belajar. Aku selalu ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal. Belajar untuk pendidikan madrasah, pun asrama. Yang jelas, tidak ketinggalan untuk belajar menulis. Sampai akhirnya aku lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Masuklah aku ke Sekolah Menengah Kejuruan. Wow, aku tidak menyangka bahwa keputusanku lebih konyol dibandingkan dengan impianku. Aku masuk ke SMK Keperawatan. OMG! Tantangan banget dalam hidup ini. Yang mana aku harus berhadapan dengan klien, darah, jarum suntik, obat, dan aroma air seni, dan pup seorang bayi yang baru lahir.

Gak masalah, selama aku kuat menahan semuanya, kecuali darah. Kupikir, dengan memasuki SMK Keperawatan, phobiaku pada darah akan sembuh. Tapi nyatanya tidak juga. Aku hanya berani melihat darah selama dua minggu, tanpa adanya penolakan dari dalam tubuh. Hingga akhirnya, aku menemukan seorang pasien dengan penyakit selulitis yang mengharuskan telapak kakinya untuk dibersihkan beberapa bagiannya.

Oh, rasanya benar-benar membuatku mual dan teringat sebuah kejadian yang kusaksikan dengan mata kepalaku di usia 5 tahun itu. Dan, lagi-lagi hal tersebut menjadikanku takut pada darah, sampai saat ini.

Di masa Sekolah Menengah Kejuruan itulah aku lebih berani untuk berusaha mencapai impianku. Kebetulan, sekolahku mewajibkan muridnya untuk menggunakan laptop sebagai sarana pembelajaran. Bersyukurnya, bapak memberiku barang itu tanpa kuminta.

Dengan senang hati kumanfaatkan benda itu untuk menulis cerpen. Aku selalu menulis cerpen yang sangat banyak. Bahkan, berpikir untuk membuat novel. Hal tersebut terinspirasi dari kakak kelas yang sudah kuliyah dan menerbitkan buku sendiri (tugas kampus).

Apa yang kutulis sebagai 'cerpen' itulah yang kubangga-banggakan. Tidak ragu tulisan itu ku-print, lalu kubagikan pada teman-teman sekelas ataupun para penghuni asrama. Meminta mereka untuk memberikan kritik dan saran. Yah, meskipun mereka tidak ada yang berani memberikan kritikan dan hanya terus menerus memuji.

Impian untuk menjadi seorang penulis membuatku menyukai semua guru yang mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Dan, kepada beliaulah aku mempelajari sedikit demi sedikit tentang kepenulisan cerpen (ini sih karena memang ada pelajarannya).

Karena sudah banyak mengumpulkan cerpen-cerpen karyaku, tekad untuk mengirimnya pada media sudahlah bulat. Kukirimkan cerpen itu pada beberapa media. Bodohnya, aku tidak memperhatikan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum mengirimkannya. Terlalu polos dan gaptek.

Bayangkan saja, anak SMK yang gak tau sama sekali tentang aturan penerbitan, dan akhirnya mengirimkan karyanya tanpa bimbingan dari orang lain. Sudah jelas akan ditolak mentah-mentah karyaku itu.

Putus asa? Iya, pernah sekali aku menyerah dengan impian itu. Tapi, tidak lama. Beralih dari membuat cerpen, aku menelateni puisi. Mengikuti acara pelatihan tingkat kabupaten untuk kepenulisan puisi. Lagi-lagi, kepolosanku membuatku tidak mudah menyerap hal-hal yang berkaitan dengan tulis menulis. Namun, sejak saat itulah kutemukan keberanian untuk terus maju.

Aku mengikuti perlombaan puisi, yang pada mulanya tidak mendapatkan apapun saat pengumuman pemenang. Iri sekali melihat orang-orang yang mendapatkan juara saat itu. Dan, hal tersebut memicuku untuk terus belajar menuliskan dan mendeklamasikan sebuah puisi. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah kesempatan untuk menguji kemampuanku sendiri.

Aku mengikuti cabang perlombaan puisi yang diadakan oleh seluruh komplek asrama. Dan sungguh kebesaran Allah, aku memenangkan lomba tersebut. Tidak hanya menjadi yang ketiga, ataupun kedua. Akulah juaranya. Bahagia sekali, sungguh. Aku semakin bersemangat meski masih tidak percaya bahwa aku bisa mengalahkan seorang teman yang sudah pernah juara di tingkat provinsi.

Lagi dan lagi, aku semakin bersemangat menulis. Sampai akhirnya luluslah aku dari SMK Keperawatan itu. Di masa setelah kelulusan, aku tidak fokus pada menulis. Bahkan, nyaris melupakannya. Sungguh jahat sekali diriku, sampai teganya melupakan impian masa kecil itu gara-gara kesibukan lain.

Ah, tapi tidak berselang lama, aku menyadari akan impianku. Aku mencoba untuk mencari tahu segala hal tentang siaran radio. Mendekati penyiar-penyiar yang bertugas di kotaku. Dan, mencoba untuk lebih berani menawarkan diri untuk magang. Tapi, lagi-lagi ada hambatan. Di asrama tidak diizinkan keluar kecuali berkepentingan yang berkaitan dengan sekolah.

Ya, aku tidak melanjutkan untuk menggali lebih dalam lagi tentang menjadi penyiar radio.

Karena aku memang tidak suka diam ketika ada waktu luang, aku kembali pada kertas-kertas kosong yang akan sedih jika diabaikan. Aku mencoba untuk menggambar model baju. Mulai dari kemeja biasa, sampai gaun. Yah, meski sama sekali tidak mirip rancangan designer kondang. Tapi, setidaknya aku tidak membiarkan jari-jari ini berleha-leha.

Hingga pada akhirnya, tibalah masaku untuk keluar dari asrama. Memulai hidup pahit di dunia kos. Menjadi anak kos yang harus lebih irit, karena kebutuhan semakin meningkat. Lagi pula, aku bukan di usia enam belas tahun ke bawah. Jadi, bukan waktuku hanya mengandalkan uang jajan dari orang tua.

Aku mencoba menggambar doodle. Memberikannya pada teman-teman sebagai bentuk ucapan ulang tahun. Dan, sampai ada beberapa teman yang memesan dan memberikan honor kecil-kecilan. Yah, cukup untuk membeli sabun saja. Tapi, aku sudah sangat bersyukur. Setidaknya mengurangi jatah kirimanku dari ibu dan bapak.

Teruslah waktu berjalan. Aku tidak mau tinggal diam. Selama menempuh pendidikan, aku selalu mencari ide untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Menjual pakaian, bahkan sendal melalui online. Gak peduli malu, atau gengsi. Aku butuh uang untuk menunjang hidupku. Aku tidak ingin terlalu merepotkan kedua orang tuaku. Karena, sudah cukup mereka kerepotan memberikanku pengobatan ke sana kemari.

Sampai, tiba pula kehidupanku pada penghujung tahun 2017. Awal mula semua impian kujejaki sedikit demi sedikit, meski sekarang pun impian itu belum terwujud.

Selesai masaku melaksanakan praktik di sekolah, tidak lagi kutempuh pendidikan seperti biasanya, yang harus bertatap muka dengan pendidik selama beberapa hari dalam seminggu. Dalam arti lain, aku sudah menjadi pengangguran. Tidak siap dengan resiko kekurangan saat memiliki keperluan, aku berusaha bekerja.

Pekerjaan pertamaku adalah mengajar ngaji privat anak usia 5 tahun. Tidak cukup sampai disitu, aku pun mencari pekerjaan sambilan.

Ya, aku akhirnya menjadi karyawan di pabrik kopi. Tapi, hanya bertahan selama dua bulan sebelum akhirnya bekerja di kedai minuman Thai Tea selama hampir setengah tahun.
Di masa itulah aku lelah dengan semua impian dan juga penghasilan tambahan. Tapi, Allah menunjukkan jalan terbaik untukku.

Modal asal-asalan saat mencari lowongan pekerjaan online tepatnya pada tanggal 31 Desember 2017, aku dipertemukan dengan sebuah platform menulis. Mulanya tidak percaya jika platform itu benar-benar membayar para usernya. Namun, aku tetap mencoba. Dan, bersyukurnya aku memang benar-benar dibayar.

Bayaran pertama, karena aku masih tidak maksud dengan dunia literasi itu, kudonasikan semua uang yang kupunya meski tidak banyak. Lalu, hasil kedua, ketiga, sampai yang terakhir, Allah mengizinkanku untuk mencicipinya. Menikmati hasil tulisanku yang sangat buruk, dan acak-acakan itu. Alhamdulillahnya bisa membantu mencukupi beberapa kebutuhanku.

Aku tidak mengerti dunia kepenulisan, sama sekali. Karena aku bukan lulusan sarjana sastra, Bahasa Indonesia, ataupun yang lainnya. Di antara orang-orang yang berpendidikan dan sudah mahir menulis, aku masih percaya diri dengan tulisanku yang super jelek tanpa aturan itu.

Tapi, aku tidak tinggal diam. Aku terus mencoba. Berusaha untuk mengerti melalui membaca, mencoba, dan meminta. Ya, aku meminta seseorang yang lebih dulu memakan asam garam dalam dunia kepenulisan  untuk mengajariku. Dan, sedikit demi sedikit aku mendapatkan sebuah ilmu. Begitulah seterusnya, aku meminta lagi pada orang lain untuk mengajariku sebuah puisi. Dan, dia mengajariku dengan sangat sabar.

Di tempat itu, aku menemukan banyak teman. Banyak saudara. Banyak ilmu dan pengalaman. Semua memberiku semangat untuk tetap menjadi diri sendiri dan mewujudkan impianku.

Sampai pada satu tahun berjalan. Tepat mendekati akhir tahun 2018, ada kejadian tentang dunia kepenulisanku itu yang membuatku sedikit trauma untuk berteman. Yang akhirnya, membuatku menjauhi satu persatu dari mereka. Bahkan, menjauhi orang-orang yang tidak bersalah, dan tidak ada kaitannya dengan problem itu.

Sampai pula pada kejadian yang membuat tempat literasi itu ditutup untuk sementara, hingga saat ini. Dan, membuatku harus berkeliaran mencari tempat yang baru.

Ya, aku menjelajah 5 tempat lain. Semuanya memiliki aturan dan honor yang berbeda-beda. Bahkan ada yang tidak dibayar. Tapi, semua tempat itu banyak sekali ilmunya. Dan, dari kesemuanya, aku masih aktif pada satu tempat saja. Mungkin sudah ada beberapa yang tau.

Perihal blog ini, ini adalah hasil dari traumaku pada pertemanan itu. Seseorang yang dekat denganku membuatkan blog ini agar aku bisa tetap menulis, karena menulis sudah menjadi kebutuhan pokok bagiku. Dalam sehari, akan sangat kesal jika tidak kutuliskan beberapa rangkaian kata saja.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa di dunia blog, semua dari kita bisa saling tegur sapa. Sampai akhirnya, Annisa Jelita menyadarkanku akan hal itu.

Dialah gadis cantik yang pertama kali memberikan komentar pada salah satu puisiku. Kemudian diikuti oleh bang Himawan, dan teman-teman lainnya. Yaps, dari saat itulah aku mulai mengerti bahwa menulis tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi, juga untuk orang lain.

Mulanya aku menulis hanya ingin dibaca oleh orang-orang yang berkenan membaca dan bermanfaat bagi mereka. Sekarang, aku ingin tulisanku dibaca oleh banyak orang di dunia dan lebih banyak lagi bermanfaatnya—meski lagi-lagi ini menjadi impian konyolku.

Terimakasih pada kalian, yang sudah menjadikanku bagian dari kehidupan yang manis ini. Terimakasih sudah membuatku mengerti banyak hal. Memberiku banyak tawa, dan juga pelajaran.  Terimakasih yang terdalam untuk orang terdekat yang sudah menyiapkan wadah ini sebagai tempatku menulis dan mengenal orang-orang hebat yang senantiasa setia membaca tulisanku.

Ini adalah dunia yang tidak akan pernah bisa terlupa. Dunia literasi yang manis.

~Jangan lepaskan genggaman ini, sebab dari sebuah genggamanlah kita semua kan menjadi orang-orang yang berjaya~ Bintang Malam. 

Comments

  1. Weh ada namaku wkwk. Jangan pernah berhenti menulis yaa, mbamku ;*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan kamu gak typo dek? Kwkw
      Iya insya allah. Kamu juga ๐Ÿ˜˜

      Delete
  2. Semangat ya dek, raihlah mimpimu biarpun banyak rintangan. Atasi semua rintangan, insya Allah nanti akan berhasil..๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah. Aamiin ya Allah. Makasih kak Eny๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

      Delete
  3. adek ini sepertinya sudah mandiri banget, trauma pd masa lalu tinggal mencari keadaan yg sama tp jalan berbeda nanti bs berteman lg dgn org berbeda tanpa trauma'
    klo masalah darah aku jg diawal ngeri hihi tp skrng terbiasa liat kpla pecah dll'
    iya dek inti nya semangat mengerjakan sesuatu termasuk hobi mu menulis saya kira ngeblog lebih dr pd sosmed si biru๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sob, di blog jg sudah mencakup sosmed juga. Bahkan lebih bermanfaat krn dapat bnyak ilmu dari teman blog, drpd sosmed facebook yg cuma sendau gurau

      Delete
    2. ngeblog jg menghasilkan๐Ÿ˜ƒ

      Delete
    3. Aku belum pernah dapat duit sejak di blogspot.๐Ÿ˜„

      Delete
    4. Berjuang dan berdoa ๐Ÿ˜ƒ

      Delete
    5. Kayakna yg punya blog ini jg mau gajian dr adsense nih๐Ÿ˜ƒ

      Delete
    6. @sopyan, hihi aamiin. Tapi mash lama. Kan bari sebentar adsen-nya nempel kwkw..
      Hihi iya traumanya smoga terobati. Dan, smoga tetp semangat berbagi di blog hehe

      @Budi, ah bang Budi. Kayak pernah serius aja. Lawong kalo di blog juga cuma bahas Suee sama bang Satria dan om" tukang hoax ituh kwkwkw
      Ya kan om Agus? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


      Kabuurrr...




      Eh ini kan blogku, gak bsa kabur dong kwmwmw

      Delete
    7. Mudah"an aja cepet gajian ya amin๐Ÿ˜Š

      Delete
  4. semoga impian seiring dengan usaha dan doa dan tidak berhenti di tengah jalan. chaiyok chaiyok mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah. Terimakasih doa dan semangatnya kakak cantikku๐Ÿ˜˜
      Semoga kita dipermudah segala urusannya๐Ÿ˜‡

      Delete
    2. aminnn.... salama jumaat barakah!

      Delete
  5. Bingung mau komentar apa..mungkin ini aja kali ya "wow keren" ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp kok mas her, santai aja.๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

      Delete
    2. Udah udah gak usah jutek'an rebutan tetangga ...
      Kalian keren semua. Dah sana ngapelin tetangga. Mumpung maljum huahaha

      Delete
  6. Masa kecilnya kog hampir sama dg saya, suka coret2 buku, kdg suka menulis cerita harian di buku khusus.

    Awal kali saya kenal blog ini sudah terasa kalo Bintang memang jago menulis. Dari rangkaian kata dan bahasa, seolah saya berhadapan langsung sama penulisnya.

    Tntang traumanya mungkin ada soal anu kali ya hihi.

    Terus terang saya kagum juga dgn perjalan hidupnya, tapi ada rasa terharunya juga. Sampai pada akhir baca ,saya menarik nafas dalam2. Hmmmm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo soal masa kecil mah hampir setiap orang juga pernah mengalami kesusahan mas Budi, kan kita bukan dari keluarga konglomerat jadi wajar kalo masa kecil susah, aku saja pernah makan nasi aking sebulan karena ortu gagal panen dan ga ada duit.

      Sekolah juga berhenti cuma sd saja karena ga ada duit.

      Tapi enjoy aja sih nikmati hidup, Allah tahu mana yang terbaik buat kita. Karena sejak kecil ditempa kesusahan jadinya hidup hemat (or pelit , tapi ga pelit pake banget, buktinya kasih komentar hahaha..๐Ÿ˜‚)

      Delete
    2. @budi, hehe mungkn masa kecil orang" zaman dl memang begitu hihi

      Humm kapan coba awal ketemu blog ini? Kwkw awal mula kau perkenalkan rongdo itu padaku kah? ~eaakk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚hehe

      Huumm iya bang, soal anu. Anu sih, si anu mah suka anuin orang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚kwkw

      Hihi makash udh bertahan membaca hehe

      Delete
    3. @Mr.Hoax, hu'um om. Jaman dlu mah kayaknya pada samaan hee cie couple, triple kwkw

      Pendidikan dizmaan dl mah emang gak terlalu penting juga katanya mbah"ku hihi. Gak masalah toh, kan emang kudu enjoy hehe

      Iya yg gak pelit. Makash dh komen. Ntar kubayar kwkw. Aku kan holang kaya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Delete
  7. Mbak Bintang gaya penulisannnya enak sekali mengalir seperti kayak dicritain langsung didekatnya....
    Sukses selalu mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe makasih bang. Aamiin ya allah. Sukses juga buat bang Aris๐Ÿ˜Š hehe kalo dideketku malah gak kuat dengerin kwkw. Gak da remnya kalo dh ngomong๐Ÿ˜‚

      Delete
  8. Semangat menulis ya, Bin.
    Tulisanmu itu khas, ada kesan remajanya.
    Satu lagi ciri yang hanya dipunyai beberapa blogger, Bintang termasuk sosok yang ramah, rajin dan bersedia bewe.

    Sepertinya ada nama bang Himawan di artikel diatas.
    Bang Himawan siapa ya ?
    *celingukan* ...
    Kenalin ya biar buat nambah daftar pertemanan blogger :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe semangat bang. Makasih hihi. Wew awas jangan dibilang begitu, nanti orangnya ke PeDean kwkw

      Haha celingukan aja terus. Gak akan ketemu sama orangnya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ bsok aku kenalin hahaha

      Delete
    2. Baiklah,
      Akan kutunggu sosoknya ๐Ÿ˜

      *sambil nerusin celingukan sibuk muterin bola mata*

      Delete
  9. Wah wah, semangat yaa mba..
    Mungkin menjadi seorang penulis juga diimpikan oleh banyak orang dan banyak cara menuju ke roma, eh menjadi seorang penulis hehe :)

    semangat nge-blog mba dan terus berbagi manfaat pada sesama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya kak. Pasti banyak yg pingn jd penulis. Apalagi skrang gak susah buat menuliskan sesuatu untuk dbaca orang banyak hehe

      Semangat juga kak. Kita sama' berbagi hehe

      Delete
  10. Dari SD udah mulai nulis,luar biasa teh kekonsistenannya,pada dasarnya nulis itu bukanlah suatu hal yang mudah akan tetapi kalau dilakukan dengan seoenuh hati dan dengan hobi bukan paksaan fijamin bakalan luar biasa hasilnya,he-he,semoga saja,untuk blogger indonesia boleh dicontoh ini perjalanan hidup si teteh dalam hal ngeblog,ada baiknya ngeblog memang di mulai sejak dini agar ketika besar seseorang sudah menemukan jati firinya bahkan rekam hidup perjalanannya,dari situ mungkin seseorang bisa lebih mengintropeksi dirinya apakah ingin menjadi seorang penulis atau ingin menggrluti pekerjaan lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe makasih bang.
      Iya bener. Nulis emang bukan perkara mudah. Harus sering banget dilatih supaya terbiasa. Hehe iya. Ayo sama" semangat buat menggali kompetensi dalam diri. Hehe. Jangan kalah dg orang" yg udh lebih dulu sukses๐Ÿ˜Š

      Delete
  11. Tadi sebenarnya ingin komen dengan akun ini tapi masuk ke akun blogger lainnya,he-he,jadi beda blognya,oh,iya teh salam kenal ya dari saya kuanyu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe pantesan aja namanya mirip hehe. Salken juga dri Bintang๐Ÿ˜Š

      Delete
  12. Semangat untuk terus menulis.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe siap kak. Kakak juga ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

      Delete

  13. Raih segala impianmu dikala masih menghijau dan menikmati dikala senja..๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    Semangat 45 Gooooooo!!..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiap๐Ÿ˜…tenang aja. Nanti kalau dh hijau, kita cet pake warna pink hihi

      Gooo 45. Semangat hihi

      Delete
  14. saya jadi penasaran dengan kata-kata "Seseorang yang dekat denganku membuatkan blog ini agar aku bisa tetap menulis, "

    ini kira2 siapa ya?
    hahaha jadi kepo saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa kupikir gak akan ada yg sadar dg kalimat itu .. Haha ternyata ada juga yak kwkw

      Delete
  15. wih, dari SD udah punya keinginan jadi penulis. aku jaman sd belum ngerti apa itu penulis. cita-citaku dulu malah jadi guru. pas jaman SMA baru deh pingin jadi penulis. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya nih kak. Gak tau pingin banget jdi penulis dri kecil hehe. Kayaknya bermanfaat bangt tulisannya

      Terus udh jadi guru belum skarang? Hehe

      Delete
  16. Wah keren banget kakak satu ini sering banget dan hobi nulis sejak kecil ya.. semoga jadi novelis terkenal ya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe aamiin ya allah. Smoga aja kak. Makasih doanya๐Ÿ˜˜

      Delete
  17. Wah keren mba Bintang, semoga mba Bintang bisa jadi Penulis profesional terkenal ya dan melahirkan karya-karya literasi yang bagus, mungkin nanti suatu saat kita bisa kolaborasi antara tulisan dan visual yang saya bikin nanti hehe. Dan tapi pertanyaan yang terngiang-ngiang dikepala saya ini, ini sebenernya aktivitas blogging ini kita nulis atau ngetik ya? haha mungkin bisa dibilang pengetik bukan penulis gitu kali ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya allah. Smoga saja doanya dipermudah untuk terkabul ๐Ÿ˜Š. Makash..

      Wow mau bnget tuh hehe. Dl sempet baca puisi divideo.in sih sama temen. Dia yg edit hihi. Ahaha kalo disebut pengetik, ntar dikira jasa ketik makalah dan skripsi kwkwkw

      Delete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.