Cerpen [ Sedingin Hujan—1]

Pic—baltana.com

"Kalau aku tancapkan pisau ini tepat di jantungmu, apa kamu akan menyeretku ke neraka?"

"Tidak, aku cuma ingin kasih senyum yang gak akan bisa kamu lupain, dan akan kasih kamu kecupan untuk yang terakhir kali." Nara untuk Asyila.

*******

Sudah berjalan empat tahun sejak kejadian itu. Asyila, gadis periang pemilik lesung pipi dan rambut pirang itu masih saja senang duduk di kursi besi berkarat di bawah pohon jati, di ujung komplek rumahnya.

Pohon yang masih belum terlalu besar, masih mungil dan belum mampu meneduhkan orang-orang yang duduk di bawahnya itu merupakan hasil tanaman  Asyila dan Nara. Mereka menanamnya tepat di hari jadi mereka yang ke satu tahun.

Di tangan Asyila, ada satu kotak kecil berwarna pelangi yang sudah mulai kusam. Tatapannya pada benda itu mengalihkan dunianya sendiri. Asyila hanya ingin membukanya untuk mengetahui rahasia yang selama ini sama sekali tak berani disentuhnya, dari Nara.

Nara, seorang lelaki yang masuk dalam kategori idaman banyak wanita. Memiliki satu lesung pipi, tepat di pipi kanannya, hampir mirip dengan milik Asyila. Matanya sedikit sipit, kulitnya memiliki warna manis bak sawo matang. Dan dia adalah lelaki yang sangat ramah. Terlalu ramah, sampai-sampai Asyila selalu dibuatnya cemburu saat Nara berbincang-bincang dengan teman seangkatannya.

Asyila dan Nara, keduanya adalah pasangan yang terkenal dengan julukan 'Sweet couple' di area perkampusannya. Bahkan, sampai rektor mereka pun tahu kalau keduanya memang menjalin hubungan cinta. Wajar, mereka selalu tampil bersama sejak menjalin hubungan. Kompak, dan tidak pernah membuat masalah di kampus. Bahkan, keduanya sama-sama menjadi mahasiswa teladan di kelasnya masing-masing.

Tapi, semua ketenaran, kebahagiaan, dan juga pujian itu hanya berjalan selama satu tahun saja. Tepat seusai penanaman pohon jati di ujung komplek rumah Asyila. Di bawah rinai hujan dan menguarnya aroma petrikor, semua kisah berubah, tanpa permisi.

Satu jam sebelum penanaman bibit pohon jati, Asyila telah menyiapkan segala perlengkapannya. Mulai dari cangkul, bibit pohon jati, air, celemek, dan juga sarung tangan sebanyak dua pasang.

Asyila duduk sila di pinggir area yang akan ditanaminya pohon jati. Matanya berkedip beberapa kali, memastikan ia tak salah melihat sosok lelaki tinggi nan manis yang berdiri tegak di hadapannya. Tak lama kemudian, senyum Asyila mulai mengembang. Diikuti dengan embusan nafas panjang, lalu dia berdiri dengan bantuan Nara.

"Sudah lama menunggu?" Nara mengelus rambut pirang Asyila, menyibakkannya sesekali lalu menyelipkan beberapa helai rambutnya di belakang telinga Asyila.

"Emmm," Asyila hanya bergumam sembari menggelengkan kepala beberapa kali sambil mengedipkan kedua matanya, berusaha menggoda Nara.

Senyuman Nara sudah pasti tak dapat lagi disembunyikan. Gigi gingsulnya terlihat putih ketika ia tersenyum. Melihat itu, Asyila semakin menggila. Tak tertahankan. Dicubitnya lengan kekasih hatinya itu, tanpa ampun.

"Gak jadi nanam pohon nih?" Nara mencoba mengalihkan perhatian Asyila. Mencubit pipinya lalu menatapnya tanpa berkedip. Membuat hati Asyila semakin berbunga-bunga. Jika ada speaker yang bisa dimasukkan ke dalam jantungnya, sudahlah pasti degupnya akan terdengar sangat kencang. Asyila benar-benar telah jatuh di pelukan Nara.

"Pakai ini!" Perintah Asyila pada Nara sembari mengulurkan sepasang sarung tangan yang sejak tadi sudah berada di sakunya.

"Jangan, biar aku yang memakaikannya," Asyila merebut kembali sarung tangan yang baru saja berada pada genggaman Nara.

Seperti drama dalam sebuah sinetron, Asyila berperan sangat romantis. Dielapnya punggung tangan Nara dengan kedua telapak tangannya. Ditiupnya perlahan, lalu dengan penuh kehati-hatian, sarung tangan itu ia semayamkan pada tangan Nara. Membungkus rapi jemarinya, dan melindungi Nara dari cacing-cacing tanah serta bakteri lainnya.

"Udah, jangan dilihat terus, aku kan gak akan ke mana-mana," ucap Nara pada Asyila yang tengah sibuk meperhatikan wajahnya.

Masih dengan senyuman yang sama, memperlihatkan gigi gingsul dan juga mata sipitnya yang memesona. Nara masih berusaha meyakinkan Asyila bahwa dirinya tak akan pernah pergi meninggalkan wanita cantik pujaan hatinya itu. Tapi, apa boleh dikata. Asyila masih saja menatap Nara tanpa henti. Seolah hari itu adalah waktu terakhir pertemuan mereka.

"Asyila, pohon jatinya sedih tuh, gara-gara kamu cuekin," Nara menutup kedua mata Asyila dengan kedua telapak tangannya yang sudah terbungkus sarung tangan dengan rapi.

"Ups, maaf!" Ucap Asyila singkat sembari mengalihkan tatapannya dari Nara.

Tangan kanannya menggenggam jemari Nara. Menuntunnya untuk memegang cangkul, lalu memberinya isyarat dengan satu kedipan mata. Meminta Nara untuk menggalikan lubang untuk pohon jatinya.

Dengan lembut Asyila mengambil bibit pohon jati dari ember berwarna hitam tempat persemayaman sementara bibit itu, sebelum akhirnya akar yang masih lembut itu berbaur dengan tanah.

Tanah yang memiliki bau khas itu kini telah tersirami oleh air yang Asyila siapkan. Siapa lagi kalau bukan Nara yang menyiraminya, di saat Asyila tengah sibuk memindahkan bibit pohon jatinya dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan.

Celemek memasak yang seharusnya terpasang pada saat wanita bekerja di dapur, kali ini beralih fungsi. Asyila dan Nara mengenakannya, untuk melindungi pakaian mereka dari tanah merah.

Selesai menanam, bibit pohon jati yang kemungkinan besar tak akan tumbuh dengan baik itu telah berteman dengan tanah, dan rerumputan lainnya. Asyila berhasil menanamnya tanpa mematahkan satu inci-pun dari akarnya yang masih lembut. Langkah terakhir, kali ini adalah tugas Nara, menyirami bibit pohon jati yang telah tertanam. Setelah selesai, sebuah tatapan penuh keteduhan lagi-lagi Nara berikan pada Asyila, lengkap beserta senyuman manis yang tidak ada duanya.

"Pohon ini akan menjadi kenangan yang tak akan pernah kita lupakan, Nara. Meski nantinya salah satu dari kita akan tiada." Bisik Asyila di telinga kanan Nara.

Ucapannya bak penyair kata, baku, tapi tidak kaku. Ya, begitulah Asyila yang sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap pelajaran, tak luput dari ingatannya. Semuanya karena Asyila ingin mengukir kata yang indah setiap hari untuk Nara, di masa menua nanti. Agar lelaki pujaannya itu tak mencari istri muda yang lebih pandai darinya.

"Yes sweety," jawab Nara singkat sembari melepaskan dua sarung tangan yang membungkus jemarinya dengan rapat. Lalu, melepaskan milik Asyila. Memasukkannya ke dalam ember kotor bekas bibit pohon jati. Kemudian, melanjutkan dengan melepaskan celemek yang menempel pada bagian dada hingga lututnya.

"Cepat besar ya Momo! Biar kami bisa berteduh di bawahmu," ucap Asyila sembari membalikkan badan. Menggenggam jemari Nara, lalu pergi meninggalkan pohon jati kecil sendiri.

"Namanya Momo?" Tanya Nara yang kemudian dijawan dengan anggukan oleh Asyila. Bertanda, pendapat Nara adalah suatu kebenaran.

Waktu berlalu begitu cepat. Awan di langit mulai membentuk gumpalan pekat berwarna abu-abu. Embusan angin mulai terasa dingin. Dedaunan yang menguning terjatuh saling beriringan, di pinggiran jalan. Rumput-rumput menari dengan gemulai, menyambut datangnya dedaunan yang gugur.

Di ujung jalan komplek rumah Asyila adalah sebuah taman, milik kakeknya yang sudah lama terbengkalai. Asyila menitipkan satu pohon jati di sana, berharap delapan tahun kemudian pohon itu bisa dijadikan tempatnya berteduh, bersama Nara.

Jika kebanyakan orang akan menanam pohon cemara, tapi tidak untuk Asyila. Baginya, pohon jati adalah pohon pelambang kehidupan. Menurutnya, pohon jati sama seperti manusia, berdarah. Ya, Asyila telah membuktikannya, daun jati muda akan berwarna merah jika ditumbuk lalu direndam dengan air. Dan, masa-masa percobaannya itu membuatnya menyukai pohon jati, sampai saat ini.

"Nara, kamu mau makan apa?" Tanya Asyila setelah Nara meletakkan ember berisi celemek dan sarung tangan kotor itu di samping rumah Asyila.

"Aku mau langsung pulang, aku harus ke dokter," jawab Nara dengan nada yang teramat pelan, nyaris tak terdengar oleh Asyila.

"Kamu, sakit apa? Kenapa gak pernah cerita ke aku. Sejak kapan? Sama siapa ke dokternya, terus....."

Kalimat Asyila terpotong sampai di situ saat Nara menutup lembut bibir Asyila dengan satu jari telunjuknya. Pertanyaannya yang super panjang pasti tak akan mengizinkan Nara untuk pergi karena harus menjelaskan satu persatu jawabannya.

"Cukup izinkan aku pulang, aku sudah sangat bahagia. Sama seperti menyantap hidangan spesial dari kamu, Syila."

Nara mengalihkan jemarinya dari bibir Asyila. Lalu merogoh saku celananya. Dari sana, terlihat sebuah bingkisan kotak kecil berwarna pelangi. Tak lama setelah mengambilnya dari saku, Nara tersenyum, lalu menghela napas panjang.

"Untukmu, jagalah sebaik mungkin," pinta Nara pada Asyila yang masih mematung, kebingungan.

"Apa ini?" Tanya Asyila yang sedari tadi memang penasaran dengan ucapan Nara yang serba tiba-tiba.

"Jangan dibuka, sebelum waktu terhitung empat tahun, setelah kamu menerima ini," jelas Nara yang tentunya semakin membuat Asyila bingung, dan panik.

"Tapi kenapa harus dikasih ke aku sekarang? Kan besok, besoknya, atau besoknya lagi, kita bakal ketemu," cecar Asyila yang merasa kesal dengan sikap Nara yang aneh.

Tanpa kata-kata lagi, sikap Nara menjadi sedingin hujan. Diletakkannya satu kotak kecil berwarna pelangi itu pada genggaman Asyila. Lalu, mencium kening Asyila dan berlalu, membelakangi Asyila dengan langkah yang pasti.

Sedangkan Asyila, dalam rasa kecewanya, ada ketakutan yang berkecamuk dan bercampur menjadi satu dalam hatinya. Rasa takut yang mengaduk perutnya hingga mulutnya ingin sekali memuntahkan isi perutnya itu. Mual, Asyila benar-benar takut semua itu menjadi pertanda buruk, seperti yang dilihatnya dalam mimpi.

Gumpalan awan berwarna abu, kini mulai meneteskan rinai dingin, sedingin sikap Nara. Mata Asyila masih berkaca-kaca, memandangi punggung Nara yang kian menjauh. Di luar rumah, rinai hujan pun terlihat sangat indah. Percikannya mengenai kakinya. Ya, bahkan kali itu Asyila belum sempat mempersilahkan Nara masuk ke dalam rumahnya.

Rinai hujan terus beriringan jatuh ke bumi. Menjadikan tanah-tanah yang kering menjadi basah. Menyirami pohon jati kecil yang beberapa jam lalu ditanam  olehnya dan Nara. Lalu, menguarlah aroma petrikor yang Asyila suka. Ya, begitulah runtutan peristiwanya. Akan ada hujan, lalu datanglah aroma petrikor yang menguar, menelisik kedalam penciumannya.

Namun, kali ini semua rasa yang biasanya membungahkan hatinya berubah seketika. Sejak Nara memberikan satu kotak kecil berwarna pelangi itu pada genggamannya. Pun dengan sikap Nara yang tiba-tiba menjadi dingin, sedingin hujan. Yang juga mendinginkan hatinya, hingga hampir membeku.


B.E.R.S.A.M.B.U.N.G

Apa yang sebenarnya terjadi pada Nara? Tunggu kelanjutannya ya!

Created by :
(B.I.N.T.A.N.G)

Comments


  1. Biarkanlah hujan turun membasahi bumi..

    Atau malam yang tiada bersinar rembulan..

    Namun jangan kau biarkan kuseorang diri..πŸ˜„πŸ˜„


    Kalau tak mungkin lagi hujan menyejukkan hati kita untuk apa kau dan aku disini..

    Kalau tak mungkin lagi kita bercerita tentang cinta biarkanlah ku pergi jauh..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tu kan nama saya dibawa-bawa. Saya tidak mau kehujanan bang, takut meriang

      Delete
    2. Ahahaa kasian bant sh hars kehujanan kwkwkw

      Delete

  2. Ada apa denganmu Nara..?? apakah dirimu seorang Rongdo...πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada Rongdo juga disini hihihi

      Delete
    2. Bhahaa Nara kan cowok. Masa cowok jdi rongdo kwmwkw


      @Aris, hihi rongdo ada di mana-mana bangπŸ˜‚

      Delete
    3. rongdo apa rondo apa minuman ronde wuehehe bingung saya bedainnya

      Delete
    4. Bhaha rongdo aja. Mereka suka rongdo omπŸ˜‚πŸ˜†

      Delete
  3. Duh nara shikamaru nya bersambung....
    Dah asyik asyik baca nya
    Hmm kotak pelangi kayakna isinya bumbu masak warisan turun temurun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhaha kayaknya gtu, lumayan kan buat bkin jamuπŸ˜‚ *eehh

      Delete
    2. Bhahaha braryi gak awet tua? πŸ˜‚πŸ˜†

      Delete
  4. Belun sempat baca semus, soalnya msh dlm pkrjaan.

    ReplyDelete
  5. Belun sempat baca semus, soalnya msh dlm pkrjaan.

    ReplyDelete
  6. Belun sempat baca semus, soalnya msh dlm pkrjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kekeke aku di bom sama komenan bang BudiπŸ˜‚

      Delete
  7. Aku nebak isi kotak berbalut kertas pelangi di cerita sambungannya, kok ... ini, ya ...

    Sejumput bibit unggul bawang putih πŸ˜‰

    Soalnya kan Asyila kerasa mual perutnya, nah bibit unggul bawang putih itu 4 tahun kemudian baru dibuka dan ditanam ..., kalo-kalo sakit maag Asyila ngga sembuh-sembuh juga.
    Bawang putih katanya kan denger-denger ampuh mampu ngobatin maag πŸ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhaha atuh jelas sambungannyaπŸ˜‚

      Haha itu mah bang Nata yg suka pake bawang putih buat obat maag hahah

      Delete
    2. Ouww iyaaaah ... yaah ..
      Itu mah kang Nata .. , juragan bawang putih
      Wwwkkkk


      Kamu kok ... hafal betul siih kalo ternyata kang Nata pecinta bawang putih πŸ˜… ?

      Delete
  8. cuma nebak aja sih, nara sakit dan kemudian meninggal, asyila sedih, selama empat tahun dia menunggu untuk membuka kotak pelangi di tempat dia menanam bibit pohon jati, dan setelah kotaknya di buka isinya cincin untuk melamar asyila :D, ngaco ya tebakanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya tebakan mas Khanif ini .....


      Adalah paling betul πŸ˜‰

      Alur akhir ceritanya akan berujung begitu 😱

      Delete
    2. Hihi mungkin bisa begituπŸ˜‚πŸ˜‚kita lihat aja nanti ihihi.. πŸ˜‚aku juga penasaran mau dibuat gimana cerita ini hihi

      Delete
    3. di buat semenarik mungkin mbak :D

      Delete
    4. Siyap abang. Makasih dukungannya eheheh. Jangan lupa permenπŸ˜‚πŸ˜†

      Delete
  9. Waah.. Saya tidak sabar untuk menuggu kelanjutan kisah Asyila dan Nara.

    Apakah Nara sakit, dan harus pergi berobat ke luar negeri?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bisa jadi begituπŸ˜‚ kita baca aja nanti klo dh aku post kak ehehe

      Delete
  10. Masih menjadi tanda tanya apa sebenarnya isi kotak kecil pelangi yang diberikan oleh Nara, cincin kah atau selembar surat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa pada nebaknya cincin dan selembar kertas yak hihiπŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Sebab itu yang paling mungkin atau bibit pohon jati.

      Delete
    3. Hihihi bibit cabai kayaknyaπŸ˜‚πŸ˜†

      Delete
  11. Saya komennya nanti aja lah nunggu sekalian kisah lanjutannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi oke bang. Anggap aja ini bukan komenπŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  12. Replies
    1. Ditulis sendiri aja namanya mas hihihi

      Delete
    2. Ihi bang Revi, ini gak ada nama anak blog heheπŸ˜…tuh bener usulan bang Aris hehe

      Delete
    3. Kalau ditulis sendiri kurang greget.

      Delete
    4. Hihi semoga lain waktu aku bsa pake namanya hihi

      Delete
  13. sedingin hujan dan se murni embun pagi itulah kata kata yang tepat menggambarkan suasana hatiku yang lagi galau ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo galau, pegangan tiang listrik aja bangπŸ˜‚πŸ˜…

      Delete
  14. Pohon jati dan hujan πŸ€”

    ReplyDelete
  15. apa jadi pada asyila dan nara seterusnya? nara sakit?

    ReplyDelete
  16. kalimatnya ada sebagian yang merupakan kalimat hiperbola dalam bahasa indonesia, sepertinya kalau i tambahkan majas lain lebih menarik nih teh,misalkan ditambah majas personifikasi, akan menambah puisi ini menjadi lebih hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hua ha ha, butuh aqua sepertinya saya, bukan puisi teh bintang tapi cerpen πŸ˜‚

      Delete
    2. Makash masukannya. Aku mash belajaran bangt. Soal majas aku gak trlalu bisa. Aku lagi pelajari hihi ...

      Delete
  17. Mungkin nara lg sakit yg takut di ketahui asyila. Dan mngkin nara meninggal. Jd asyila selalu mengenangnya da bawah pohon jati yg mereka tanam berdua. Masih penasaran jg sama kotak kecilnya. Mungkin berisi tentang pesan pesan x kah?

    ReplyDelete
    Replies

    1. Mungkin isi pesan dikotak itu alamat rongdo mas bud..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Kog semua terkait sama rongdo, hah suuueee...!!!

      Delete
    3. Kasihan kalo Nara mati, Asyila jd rongdo dong kwkw

      @Satria, ih abang ini rongdo muluπŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    4. Misalnya saja di buat mati bida, atau akan ada kejutan yg bahagia jg bisa

      Delete
    5. Hahhaa oke. Tunggu aja. Masih digarap kelanjutannya hehe

      Delete
  18. Kayaknya isi dari kotak itu cincin kawin! Nara sengaja meminta Asyila membukanya setelah a tahun beres kuliah, namun di sisi lain Nara kurang percaya diri karena punya penyakit berat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihihi sebenrnya jawaban temen" banyak yg nyerempet, tapi mash dirahasiakan ehehe

      Delete
  19. biar nggak lupa dan selalu ingat update terbaru di blog sobat, ijinkan saya untuk follow blog sobat ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga ikutan follow deh, biar tahu kelanjutan ceritanya.

      Delete
    2. @Zunif @Dewi, makash abang, kakak. Hihi smoga bsa segera ngepost kelanjutannya hehe

      πŸ˜‰

      Delete
  20. Gigi ginsul, aduh mengingatkanku pada sang mantan. Ya, sudahlah saya ingin cerita selanjutnya. Daripada menerka-nerka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahah cie yg punya mantan kekwk.
      Udh tuh udh dilanjutπŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete

  21. Gimana akhir ceritanya nih...apakah sang ngadimin sedang beku terpaku akan indahnya Salju..πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhaha ngadimin habs ngopi atuhπŸ˜…πŸ˜ŽπŸ˜Ž

      Delete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Kalau cerpennya di masukkan ke koran boleh juga tu teh, barangkali penerbitnya suka πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehge belom berani. Lagipula mash belajaran dan mash acak"an hehe

      Delete
  24. Kalau aku yang di kasih kotak & harus baca setelah 4 tahun kemudian.
    Aku nggak sanggup...
    Sumpah.
    Ke-kepo-anku terlalu kuat Kakak.
    Aku harus baca begitu sampai rumah & akhirnya bikin kisah ceritanya berantakan. Hihi...
    Tapi, penasaran sih.
    Apakah Asyila bisa bertahan menunggu 4 tahun?

    Yuk mari, aku langsung cus ke sambungannya.

    Terima kasih dan salam ceria Kak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.