Cerpen | [Sedingin Hujan—2]




Punggung Nara tidak terlihat lagi setelah langkah kakinya memasuki jalanan kecil, persimpangan dekat taman. Baru kali ini Asyila membiarkan Nara berjalan seorang diri di bawah rinai hujan. Biasanya, gadis itu akan menahan Nara supaya tidak nekat untuk bepergian, sampai hujan reda.

Denting jarum jam yang terus berbunyi telah tersamarkan dengan gemuruh hujan. Rinainya semakin deras. Satu kesempatan yang tidak akan dilewatkan oleh Asyila.
Ditengadahkan wajah cantiknya itu,  menghadap langit. Matanya terpejam, napasnya tertahan untuk beberapa saat. Dibiarkannya bulir air mata itu menetes dengan sendirinya, tanpa paksaan, bersatu dengan rinai hujan yang berjatuhan.

Asyila percaya, Nara akan baik-baik saja setelah menemui dokter. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi di antara dirinya dan Nara. Meski begitu, keyakinannya tersebut hanyalah sebuah asa, yang belum tentu akan benar-benar terjadi sesuai dengan apa yang diharapkannya. Membuat hatinya kembali membeku bersama kepahitan.

Rasa dingin, sesak dalam dada, takut kehilangan, dan kecewa. Semua bergelora menggantikan bahagia dalam hati Asyila.
Membuatnya melupakan kebahagiaan yang seharusnya tetap ia rasakan meski tanpa Nara.

Beberapa detik kemudian, Asyila tersungkur, badannya terhempas di atas rerumputan hijau. Matanya terpejam, dan genggamannya terbuka begitu saja, membiarkan kotak kecil itu terjatuh, tanpa perlawanan.

"Asyila bangun, sayang!"
Suara itu, Asyila mendengarnya beberapa kali setelah dirinya tidak dapat merasakan apapun beberapa waktu yang lalu. Jiwanya terbangun, tapi matanya belum juga terbuka.

Asyila masih terdiam. Mulutnya terkatup tanpa suara, tanpa penjelasan. Tubuhnya masih lemah. Setelah berjam-jam ia biarkan tubuhnya berada di bawah rinai hujan sejak Nara pergi. Kini ia harus terbaring lemah di atas ranjang.

"Sabar tante Ren, keadaan Asyila masih sangat lemah. Asyila butuh istirahat," sahut seorang laki-laki yang berada tidak jauh dari tubuh Asyila. Suara yang terdengar samar di telinganya.

"Mama......" Asyila mulai bergumam, memanggil mamanya. Kedua matanya pun mulai terbuka, perlahan.

"Syukurlah kamu udah bangun, sayang," sambut Renita, mama Asyila dengan sebuah pelukan pada tubuh anaknya.

"Sayang, ini Kegan. Teman kamu sewaktu kecil. Dia baru datang dari luar kota lho. Sengaja ke sini buat nemenin kamu selama liburan kuliyah," jelas mamanya sembari mencubit hidung mancung putrinya itu.

Selepas meninggalnya Masyeda, ayah Asyila, Renita menjadi single mom. Wanita paruh baya yang memiliki jiwa remaja itu mempunyai semangat yang tinggi. Kegigihannya membawa keluarganya pada kesuksesan. Berasal dari kalangan keluarga kelas bawah, kini dirinya berhasil menjadi seorang wanita yang dihormati banyak orang.

Dengan kegigihan dan keuletannya, Renita mengasuh dan membesarkan Asyila, anak semata wayangnya itu seorang diri. Sambil mengurus usaha kecil-kecilan yang ia rintis bersama suaminya sejak satu bulan usia pernikahannya.

Masyeda, suami sekaligus ayah Asyila telah meninggal sejak usia Asyila masih balita. Dia pun hanya mewariskan satu toko kue kering di seberang jalan layang yang letaknya tidak jauh dari tempat keluarganya tinggal. Takut akan gulung tikar dan kembali hidup melarat membuat Renita berjuang dengan sangat gigih. Ia ingin toko roti warisan dari suaminya itu tetap berproduksi dan semakin terkenal.  Asyila, putri semata wayangnya itulah yang menjadi satu-satunya alasan agar ia tetap kuat.

Di dalam kamar, Asyila masih terdiam, terbaring di atas ranjang. Kedua matanya memandang wajah ibunya yang terlihat cemas. Wajah yang biasa meneduhkan kini terlihat sendu. Meskipun Renita berusaha sekuat tenaga untuk  menutupi kecemasannya, tapi Asyila tidak mungkin  salah mengenali ibunya. Asyila tau dengan sangat, bahwa hati wanita yang melahirkannya itu sedang rapuh, serapuh dirinya.

"Hai Asyila, makin dewasa kamu makin cantik, ya?" Goda Kegan saat berusaha mencairkan suasana di dalam kamar Asyila. Membuat dua wanita yang Kegan sayangi di dalam ruangan itu tiba-tiba tertawa kecil, merespon baik kalimat Kegan yang sebenarnya mengejutkan hati Renita dan Asyila.

"Makasih, Kegan. Tapi aku gak secantik pacar kamu dong pastinya," balas Asyila. Matanya mulai berbinar. Kegan menghela napas, hatinya merasa tenang melihat Asyila bisa tertawa dan menatapnya seperti itu. Sedangkan Kegan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Asyila.

Untuk beberapa saat Asyila lupa pada kotak kecil berwarna pelangi dari Nara. Kehadiran Kegan membuatnya kembali merasakan kehidupan. Setidaknya, Asyila bisa melampiaskan rasa rindunya pada Nara melalui Kegan.

"Mama keluar dulu ya? Kalian lanjut ngobrolnya, udah belasan tahun gak ketemu pastinya rindu kan?" ucap Renita dengan lembut. Di kecupnya kening Asyila, lalu berbalik meninggalkan putrinya bersama Kegan.

Setelah keluat dari kamar Asyila, hati Renita tidak mampu  lagi untuk berbohong. Renita terisak. Diambilnya satu album foto yang berisi kenangan bersama ayah Asyila, Masyeda. Lembaran demi lembaran mulai ia telusuri dan membiarkan bulir air matanya yang sejak lama tertahan terjatuh di atas kertas foto yang sudah terpasang rapi,  terbungkus plastik tipis di dalam album itu.

"Aku merindukanmu, mas," ucap Renita dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi.

"Mama, kenapa nangis?" Renita terkejut mendengar suara putrinya. Ia terlalu larut dalam kenangan Masyeds, meski baru beberapa menit saja ia lihat kenangan alam album berdebu itu. Hingga tidak menyadari kehadiran putrinya dan Kegan di sampingnya.

Asyila sudah tahu dengan pasti penyebab mamanya menangis. Ditutupnya album kenangan itu perlahan. Kemudian menyeka air mata yang menggenang di pipi mamanya. Sekarang, Asyila lebih yakin bahwa hubungannya dengan Nara akan baik-baik saja. Sama seperti keluarganya, yang tetap berjalan baik-baik saja meski ayahnya sudah tiada.

"Tante, boleh Kegan pamit pulang? Sepertinya hujan sudah reda," Lelaki yang tak kalah tampan dari Nara itu ikut menggenggam jemari Renita.

"Udah selesai ngobrolnya? Kok cepet banget?"  sahut Renita sembari menatap mata Kegan penuh keteduhan. Tatapan yang sudah lama tidak dirasakan oleh Kegan setelah ibunya meninggalkannya untuk menikah dengan lelaki lain.

Tanpa banyak kata, Asyila segera berdiri, mengantarkan Kegan menuju pintu utama rumahnya. Tubuhnya yang masih sedikit lemah membuat langkah kakinya sedikit tertatih. Tapi Kegan sudah memahaminya. Asyila mengantarkannya ke depan pintu rumah pun sudah membuat hatinya bahagia. Di dalam rumah berlantai dua itulah Kegan kembali menemukan alasan hidupnya, Asyila dan tante Renita.
***

Seperti halnya Nara yang pergi meninggalkan Asyila. Kegan pun telah pergi, tapi ada banyak kemungkinan bahwa Kegan akan segera kembali. Tidak seperti Nara, yang meninggalakannya dengan sikap yang aneh, bukan seperti Nara yang Asyila kenal.

Di luar rumah hujan sudah tidak terlihat lagi. Gemuruhnya pun sudah tidak terdengar. Asyila akhirnya menutup pintu rumahnya setelah Kegan pulang. Kakinya masih terlalu lemah untuk berjalan dengan cepat. Dalam hatinya, ia ingin sekali ada Nara di sisinya, membantunya berjalan untuk ke kamar.

Hari semakin sore, Asyila masih menunggu kabar dari Nara. Diraihnya handphone yang sebelumnya ia letakkan di dalam laci meja riasnya. Disentuhnya layar smartphone itu, masih tidak ada icon pesan ataupun panggilan tak terjawab di sana. Hati Asyila kembali berkecamuk, paduan rasa takut dan kecewa kembali membuatnya gelisah.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ada sesak yang tertahan dalam dadanya. Napasnya hampir tersekat, seolah ada gelonggongan udara yang berhenti dan parkir di tenggorokannya. Dengan tangan yang gemetar, Asyila memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada Nara. Meski sebenarnya, ia takut akan mengganggu waktu istirahat kekasihnya itu sepulang dari dokter.

"Nara.... Gimana kata dokter?" Begitulah pesan singkat yang Asyila kirim pada kontak nomor Nara.

Handphone itu tidak terlepas dari tangan Asyila dalam beberapa waktu. Berulang kali ia ketuk layarnya, memperhatikan icon pesan, barangkali akan ada pesan masuk, balasan dari Nara. Namun, sepertinya harapan itu tidak bisa terpenuhi. Pesan yang Asyila kirimkan hanya dibaca oleh Nara, tanpa membalasnya

"Nara, aku tau kamu sakit, tapi sakit apa? Kenapa gak cerita ?" Lagi-lagi Asyila mengirimkan pesan untuk Nara. Meski ia tahu, Nara hanya akan membaca pesannya.

Bulir air mata lagi-lagi terjatuh begitu saja tanpa permisi, membasahi pipinya. Hati Asyila belum sepenuhnya bisa menerima perubahan Nara. Dan, sepertinya tidak akan ada gunanya menggenggam handphone ditangannya itu lebih lama lagi. Karena, Nara tidak akan membalasnya.

Hatinya kembali rapuh, ia kembalikan handphone itu pada laci meja rias miliknya. Tapi, Asyila tidak menutup laci itu dengan rapat. Berharap akan ada dering yang terdengar dan memberinya kabar tentang Nara.

Beberapa jam sudah berlalu, mama Asyila sudah berulang kali mengetuk pintu kamar putrinya, tapi tidak ada jawaban. Asyila sudah terlelap, tubuhnya masih lemah, dan hatinya masih kelu.

Malam memang sudah larut. Di luar rumah, cahaya bulan terlihat indah. Ada bintang yang berkilauan mengelilingi bulan. Mereka bersama-sama, saling membantu untuk pancarkan cahaya. Bulan dan bintang sepertinya sedang berbahagia, mereka bercengkrama, berbisik dan berbagi cerita. Sedangkan Asyila, ia meratap pada takdir yang menjadikan sikap Nara teramat dingin, sedingin hujan.

"Aku tidak baik-baik saja, Syila. Aku harus banyak berada di dalam rumah." Sebuah pesan singkat dari Nara terlihat pada pemberitahuan pesan milik Asyila. Namun, Asyila terlalu lelap, hingga tidak mendengar dering handphonenya. Dan, mengabaikan kesempatan untuk membalas pesan dari Nara.

B.E.R.S.A.M.B.U.N.G.

(Apakah esok akan ada kesempatan bagi Asyila untuk berbalas pesan dengan Nara? Dan, dimanakan kotak kecil berwarna pelangi itu? Tunggu kelanjutannya guys!)


Created By:
(B.I.N.T.A.N.G)

Comments

  1. Ok tak tunggu, jangan lama-lama ya nunggu nya karena aku mau ngapel ke tetangga sebelah..πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh lupa kalo ini malem minggu kwkwkw

      Delete
    2. Kirain udah ada lanjutannya, apa adminnya lagi ngitung suara ya?

      (Suara jangkrik kalo malam krik krik krik)πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  2. Sepertinya bakalan ada konflik segitiga antara, antara siapa sama siapa ya lupa..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa lagi kalo bukan satria dan Budi ngrebutin mas herman hihihi..😁

      Kabur..πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

      Delete
    2. @El, ahaha ih apa gtu yak? Hihi

      @Aagus, maksdya om Agus mau lebih dlu ngerebut? πŸ˜‚πŸ˜†

      Delete
    3. Kegan, nara, syila itu ya mksudnya

      Delete
    4. Eh, emang bintang mau direbutin apa sih, kalo permen mah banyak, tinggal kasih duid aja.πŸ˜‚

      Delete
    5. @Budi, haha sepertinya memang begituπŸ˜‚πŸ˜‚

      @El, mungkin apa?

      @Agus, udah bosen permen. Maunya coklatπŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    6. Di kasih duid juga ujungnya buat beli permen

      Delete

    7. Orang diatas suueee semuuaa!!..πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    8. Saya kan dibawah..😜

      Delete
  3. Yah menunggu lagi kotak pelangi nyaπŸ˜ƒ
    Sepertinya nanti kegan lah yang akan merebut hatinya

    Mksdnya hati renita bkn asyilaπŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahabyabharus nunggu lah bangπŸ˜‚πŸ˜‚
      Haha masak Kegan mau sama emak-emakπŸ˜‚

      Delete
    2. Haha bisa aja ckckckπŸ˜ƒ klo jodoh g kmana hihi

      Akh bikin penasaran aja ini mah hihi

      Delete
    3. Hahaha emang sih, tapi gak sama emak" juga kali hahaha

      Selamat berpenasaran ria πŸ˜‚

      Delete
    4. Jangan lama lama ya kelanjutanya πŸ˜ƒ

      Delete
  4. Sambungannya masih saling menangis apa nggak ya? Apa juga masih turun hujan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihu aunya gimana bang? Kwkw.
      Hum. Mewek gak yah? Kalo mewek muli takut tisunya habisπŸ˜‚

      Delete
  5. semoga aja Asyila dan nara tetap kirim pesan, dan persahabatan mereka bisa langgeng ya gan, seru juga nih cerpen nya bisa bikin ane teringat teman ane yang sekarang sibuk banget sampai lupa kabar ke ane, ternyata dia sudah sukses dan lupa sama teman laama, padahal dulu kita berjuang bersama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi semoga aja bang hihi. Btw, mereka berdua ecaknya pacaran lho hihi

      Temen yg kayak gtu tuh yg bikin kesel. Udh berjuang bareng" pas sukses lupa sama kulitnya . orang kayak gtu, kalo blm dpt pelajaran, susah sadarnya..
      Gak papa bang, Allah lagi nyiapin teman yg lebh bagus akhlaqnya 😊

      Delete
  6. Saya juga sampai lupa nyimpen kotak kecilnya, lho di mana tadi ya? Gara2 ada kegan sih...ayo kita cari bareng kotaknya hufh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kotaknya udah diambil bintang tuh, didalamnya ada duid katanya..πŸ˜„

      Delete
    2. @Budi, hihi udah diambil om Agus tuh. Eh om @Agus malah nyalahin aku hu hu hiksπŸ˜₯

      Delete
    3. Biasa lah ms agus kan suka hoax

      Delete
  7. Bagus, bahasanya mengalir, menyentuh hati, sukses terus dengan cerpennya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih bang. Ditunggu ilmu lainnya hehehe

      Delete
  8. mbak ini kunjungan balik, saya bookmark dulu, nanti saya baca pas senggang, semangat menulis...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ya ampun kak. Iya deh. Makash dh berkenan bookmark hihi. Semangat juga buat kakak

      Delete
  9. Di tunggu kelanjutannya hehe

    ReplyDelete
  10. Keseeeel, kirain cerpen beneran
    Ini mah cebrung yaaaa

    Waduh mana sambungannya belum adaaaaaaaa

    #TimBenciDigantung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahaha iya. Aku lupa nulis cerbung. Dri post awal dh nulis cerpen. Haha.
      Ywdah sabar yakπŸ˜‚πŸ˜†tebak" aja dl gimana kelanjutannya kwkeke
      Sambil nunggu, baca yg kesatu dlu aja hahaha


      #Akujugagaksukadigantung ahahaha

      Delete
  11. Waaahhh cerpen gini bikin ga bisa tidur nih hehehehe.
    Kadang udah masuk ke dalam cerita, jadinya kebayang mulu dan penasaran banget :D

    ReplyDelete
  12. Wadooh ..
    Aku kok mulai deg-degan yaaa ... nunggu akhir kisah cinta segitiga ini 😱

    ... Takutnya ... , Nara dan Kegan jotos-jotosan deech ..

    Trus, kotak warna pelangi itu ...keburu ngga dibuka-buka juga, tumbuuuuh deh tunas bawang putihnya xixiixii πŸ˜…

    ReplyDelete
  13. Heem,sepertinya cerpen chapter kedua ini lebih mengena, lebih terasa auranya,he-he

    ReplyDelete

  14. Gw udah baca serius2 Akhirnya bersambung...Panjang amats..😱😱😱 Apa mungkin nantinya Nayla berpacaran dengan Herman...Atau ia akan memilih Budi & Agus..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete

  15. Oohhh Asyla...Maaf gw kira Nayla...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ salah ketik..πŸ˜„πŸ˜„

    ReplyDelete
  16. yuk mari kita cari bareng-bareng kotak kecil berwarna pelangi, biar cepat kelar urusannya ya kak, siapa tahu ada disekitar kita, atau mungkin masih disimpan di google drive, sehingga perlu di download dulu :D

    ReplyDelete
  17. Ceritanya mulai berkembang dan mulai bermunculan tokoh baru apakah akan ada konflik di cerita selanjutnya.

    ReplyDelete
  18. apa kesudahannya cinta tiga segi ini? arghhh

    ReplyDelete
  19. wah cerita nya bikin penasaran kak, jadi perlu dilanjutkan nih ceritanya, biar episode nya bisa cepat tamat, apakah akhir nya happy ending atau nggak ;)

    ReplyDelete
  20. OK. OTW baca yang bagian pertamanya biar lebih mudeng.

    ReplyDelete
  21. Hastaganaga... Di episode yang ini aku makin kebawa sama suasana yang dikenalkan Kak Bintang.

    Kayaknya Kegan ganteng deh. Eh... Salah fokus.

    Tapi, aku masih penasaran sama Nara. Dia kok cuek banget sih? Why? Why? Why?


    Please! Aku kira, aku sudah nemu endingnya di sini, eh masih bersambung.

    Tapi, gpp juga sih lama. Soalnya asyik jalan ceritanya.

    Terima kasih dan salam ceria Kak.

    ReplyDelete

  22. Kemana nih orang Semedi di GOA..πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.