Menyikapi Detik-Detik Pemilu 2019.

Ilustrasi dari Pixabay

Negara kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara Demkorasi yang mana pemimpin dipilih oleh Rakyat rutin setiap lima tahun sekali, saat ini Negeri kita tercinta akan melaksanakan pemilihan calon legislatif dan eksekutif serentak tanggal 17 April nanti. Titik pusat yang menarik adalah fokus utama tertuju pada pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Kita mencermati berbagai strategy untuk memenangkan salah satu jagoannya masing-masing dalam pergulatan politik tahun ini, adu argumen hingga adu komentar di sosial media menjadi semakin memanas, bahkan Rakyat mulai ikut kedalam suasana zona politik tersebut yang mana hal ini sudah menjamur dimana-mana yang katanya bahkan lebih-lebih seperti para politikus. Mengapa demikian?
Oke, Saya akan mencoba sedikit menjelaskan mengapa hal ini menjadi semakin menjamur dimasyarakat kita. Sebenarnya hal itu merupakan sesuatu yang tidak aneh, karena dimana Rakyat Indonesia sekarang ini sudah lebih melek politik dengan mudahnya masyarakat mengakses sebuah informasi berita yang di dukung oleh teknology yang serba cepat dan tidak bisa dipungkiri lagi faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah Teknology Informasi. Bahkan teknologi informasi itu sendiri digunakan sebagai senjata yang ampuh bagi para elite politik.

Maka tidak heran banyak masyarakat kita baik di warung kopi, di pasar, dan masih banyak lagi tempat lainnya untuk di jadikan tempat sebagai sarana permbicaraan yang mana temanya ujung-ujungnya yaitu membahas soal politik.  Meskipun entah masyarakat saat membicarakan para calon itu disadari atau tidak mereka telah membahas soal politik, hal ini sebenarnya bukan suatu kemunduran justru merupakan sebuah kemajuan masyarakat kita tentang sistem politik yang sedang terjadi saat ini. Dan begitu lucu seandainya ada elite politik yang menganggap hal itu sebagai sesuatu aib bagi kepentingannya sedangkan yang memulai menyebarkan peluru politik merupakan para elite politik itu sendiri. Bukankah hal itu merupakan suatu keberhasilan kampanye mereka di masyarakat? yang mana hal seperti itulah yang menjadi visi misi para elite ketika menyebarkan kata-kata mutiaran kampanyenya di sosial media.

Dan meleknya masyarakat terhadap politik bukan sebuah kemunduran, justru sesuatu yang seharusnya kita beri nilai plus tinggal bagaimana para petugas-petugas yang berkepentingan di dalamnya mengatur agar terciptanya dampak besar untuk kemajuan bangsa dan negara. Mengapa memberikan nilai plus dalam persoalan ini, sebab inilah bentuk dari kepedulian masyarakat kepada bangsa dan negaranya. Apakah mau kita memiliki negera yang mana Rakyatnya bersifat apatis alias acuh tak acuh terhadap perkembangan bangsa dan negaranya, justru keterlibatan masyarakat dalam persoalan politik secara langsung merupakan pencapaian hebat. Keterlibatan langsung masyarakat pada politik itu bukan berarti harus mencalonkan diri sebagai calon legislatif atau eksekutif, suara masyarakat di tempat seperti warung kopi, warteg, pasar dan sebagainya tentang politik merupakan suara hati nurani mereka akan nasib masa depan yang lebih baik di masa mendatang sesuai dengan hati nurani mereka sendiri, hal itu adalah sebuah keberhasilan demokrasi. Berbanding lurus dengan arti demokrasi itu sendiri yaitu dari Rakyat dan untuk Rakyat.

Lalu bagaimana kita sebagai warga negara yang baik menyikapi detik-detik menjelang pemilu serentak tersebut?

Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya memiliki falsafah hidup dalam kepribadian berbangsa dan bernegara yang mana falsafah tersebut telah mendarah daging dalam kepribadian bangsa Indonesia. Pada dasar ideologi kita sendiri yaitu terdapat kalimat yang sangat indah dalam bahasa sangsekerta yang berbunyi ''Bhihneka Tunggal Ika'' yang mana kalimat tersebut terdapat dalam kitab suta soma karangan empu prapanca yang bermakna ''Berbeda-beda akan tetapi tetap satu jua'' meskipun kita berbeda dalam pandangan politik jangan sampai hal itu memperpecah belah kemaslahatan bangsa dan negara, boleh kita berbeda pilihan, berbeda jagoan, berbeda ras, suku, agama, tetapi kita tetap satu dalam tumpah darah Indonesia. 

Nilai-nilai tersebut yang harus kita pegang erat dalam berbangsa dan bernegara guna menciptakan suasana negeri yang adil, makmur, sejahterah.  Agar terbentuk negara yang ''Badlatun Toyibatun Warobun ghofur.''

Selain itu dalam menyikapi jelang pemilihan serentak ini, kita juga perlu menerapkan kelima poin-poin penting, guna menyempurnakan satu kalimat persaudaraan diatas. Yaitu poin yang pertama merupakan "Ketuhanan Yang Maha Esa'' sebagai warga negara yang percaya adanya Sang Pencipta yaitu Tuhan, yang mana dalam pembukaan Undang-undang dasar 1945 berbunyi ''Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan dirongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas....'' maka kita tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain mana yang salah dan mana yang tidak salah, mintalah pentunjuk Allah Yang Maha Kuasa, dan jangan merasa diri paling benar karena sebenar-banar manusia tetap memiliki kesalahan kecuali Tuhan yang maha benar. Dan kita perbanyak doa kepada Tuhan semoga memberikan kita semua bangsa Indonesia pemimpin yang diharapkan Rakyat dan mencintai serta di cintai Rakyat.

Poin kedua adalah ''Kemanusiaan yang adil dan beradab'' kita sebagai bengsa yang beradab sudah sepatutnya kita tetap menerapkan sebuah keadilan kepada siapapun tidak memandang beda politik, beda pilihan, atau beda apapun jua selama masih dalam zona ikrar sumpah pemuda yang berbunyi ''Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah Indonesia." maka tidak perlu mempersoalkan perbedaan dalam berkeadilan, jangan hanya karena tidak pro kemudian tidak menerapkan keadilan, itu merupakan tindakan yang keliru dan tidak sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri bangsa Indonesia.

Poin ketiga yang harus kita terapkan jelang pemilihan serentak yaitu ''Persatuan Indonesia'' apapun pilihan kita semua wahai saudara-saudaraku setanah air, mari kita tetap jaga kesatuan dan persatuan, jangan gara-gara beda jagoan, gara-gara beda partai dan sebagainya kita semua saling bermusuhan, terutama bagi para elite politik jangan mencontoh sesuatu yang kurang baik bagi kesatuan dan persatuan bangsa, ingat seorang pemimpin harus memberikan contoh yang baik, jadilah guru bagi yang dipimpin. Karena dalam pepatah mengatakan ''Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.'' maknanya, apabila seorang guru memberikan sesuatu contoh yang kurang baik maka dampaknya akan semakin buruk bagi yang diberikan contoh.''

Poin ke empat yaitu ''Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.'' poin ke empat inilah yang bersinggungan langsung dengan sistem demokrasi, yang mana kita hendak memilih seorang pemimpin bagi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, kita mengharapkan pemimpin yang bijaksana, dengan memilihnya dengan cara yang hikmat dengan penuh pertimbangan matang dan musyawarah serta diharapkan pemimpin yang akan menjadi wakil-wakil yang benar-benar akan memperjuangkan suara Rakyat dengan seadil-adilnya.

Poin terakhir yakni ''Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia''  Bagi bangsa yang besar sungguh tidak bijaksana dan tidak beradab apabila kita tidak menerapkan keadilan sosial, jika hanya gara-gara berlainan politik, berlainan jagoan, berlainan partai, berlainan pandangan dan sebagainya. Atau bahkan hanya gara-gara tidak memilih, tidak pro terhadap para kandidat elite politik tertentu, sehingga kita mengesampingkan hak keadilan itu sendiri. Hak keadilah merupakan hak setiap warga negara yang mana hal itu telah menjadi cita-cita luhur para pejuang yang mana telah merasakan diperlakukan tidak adil di negeri sendiri itu menyaikitkan jiwa dan raga. Lebih-lebih  menyakitkan lagi apabila setelah kita meraih kemerdekaan, telah memperoleh hak kebebasan akan tetapi hak itu diperlakukan tidak adil bukan oleh para penjajah akan tetapi oleh saudara alias bangsanya sendiri di tumpah darah yang sama, hal itu lebih menyakitkan jiwa dan raga bahkan sampai ke rongga-rongga dada menyesakkan hati nurani bangsa yang merdeka.

Salam persatuan, salam perdamaian jaga Indonesia untuk anak cucu kita.

(B_Yk)

C.05.04.2019.Rb



Comments

  1. Nyimak deh bi. Hihi intinya jangan berpecah belah. Bersatu kita teguh, bercerai cari yang lain lagi kwkwkw *ehh πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus Bersatu, karena kita semua adalah saudara. Jangan bercerai hal yang di bolehkan tapi di benci Tuhan adalah perceraian. hahaha

      Delete
    2. Hu'um bi.... Betul. πŸ˜…jangan cerai-cerai, nanti jadi rongdo kwkwkw

      Delete
    3. infonya, 2 bulan setelah Pemilu akan ada pergerakan masa Dalam jumlah besar di wilayah Indonesia ya mbak, mas?

      Delete
    4. Kotanopan@ Hal itu masih menjadi sesuatu yang belum pasti, hehe yang paling utama adalah menjada terlebih dahulu supaya pemilu di negeri kita lancar dan damai. Masalah masa dalam jumlah besar itu masih belum pasti, sebesar apapun masa itu masih jauh lebih besar dari jumlah masa yang di miliki Indonesia dari sabang samapi marauke. hehehe

      Delete
    5. kayaknya infonya udah fix mbak, karena saya lihat tanggal 4 Juni - 5 Juni Idul fitri, jadi pada berbondong-bondong mudik kalay tahun-tahun biasanya.

      Delete
    6. wahahaha parah leluconnya nih.. kirain rame yang mana..

      Delete
    7. wkwwk,,, sekedar mengigatkan, sebentar lagi puasa,,,,, om,,,

      Delete
    8. Ahahaha parah saya gak mudeng.

      Delete
  2. Waahh saya belum bisa milih tahun ini karena umur saya masih kecil...Baru kelas 5 SD. Ikut nyimak saja..πŸ˜„πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha sunat dulu baru milih Satria MWB.

      Delete
    2. Hellah bang... Suka rongdo kok ngaku-ngaku anak kelas 5 SD ahahaha. Nanti tetangga kabur lohπŸ˜‚

      Delete
  3. Nyimak dulu deh sambil baca tulisannya, hehe..

    ReplyDelete
  4. kalau saya cuman berharap kepada yang terbaik aja,semoga pemimpinnya amanah dan bisa memajukan negara kita dan satu lagi pilihlah dengan hati bukan dengan paksaan, apalagi dengan embel-embel kekuasaan serta penyogokan

    ReplyDelete
  5. makin hari suasana menjelang pemilu makin panas, antar kubu yang satu dengan kubu yang lain saling serang dan lempar isu dan kasus masa lalu, sehingga membuat ane sebagai pengamat agak males juga ikuti perkembangan politik di negeri indonesia :D

    ReplyDelete
  6. oh dah hampir dekat. tinggal 10 hari sahaja lagi...

    di sini, pada hujung minggu nanti ada PRK (Pilihan Raya Kecil) untuk kawasan Rantau. jadi orang2 di Rantau akan keluar mengundi untuk pilih candidate baru. orang lain hanya memerhati sahaja dari jauh ;-)

    ReplyDelete
  7. Saya dong belum tau mau nyoblos atau enggak, masih bingung milih yang mana hahaha
    Mana KTP saya di alamat mertua pula, lumayan juga perjuangan kalau mau nyoblos

    Tapi, siapapun kelak yang menjadi pemimpin negara ini, semoga merupakan pemimpin yang terbaik dan amanah untuk bangsa ini, aamiin :)

    ReplyDelete
  8. Sip mari kita ciptakan pemilu yg damai, mudah2an setelah pemilu tetap damai klo perlu maaf2an kan mau puasa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe mari-mari kita satu saudara... Jangan gara-gara pemilu semuanya jadi gak akur.

      Delete
  9. semoga kita semua bisa menciptakan pemilu yang aman.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.