Puisi | Daun yang Relakan Embun

Pic—walhere.com


Aku begitu menanti datangnya pagi
Menikmati indahnya hari bersama kisah daun dan embun
Yang akan terus membuatku berdecak kagum tanpa henti

Membuatku ingin terus di sini tuk amati dedaunan yang masih menari
Bersama embun pagi yang terlihat anggun
Daun dan embun membuatku ingin terus berlama-lama tuk menatapnya
Untuk memandangi keanggunan yang Tuhan ciptakan

Begitu hebatnya daun yang tak pernah mengusir embun
Meski embun hanya singgah sementara saja 
Daun selalu mengajak embun menari bersamanya
Menikmati sinar mentari yang akan memisahkan keduanya

Daun tahu mentari akan datang tuk membawa embun pergi
Hingga tak ada lagi embun yang bertengger di atasnya,
Tapi daun tak pernah merasa kehilangan
Karena daun yakin esok embun kan kembali datang

Begitulah kehebatan daun dan embun yang membuatku terus menyukai keduanya
Aku ingin seperti daun yang kan merelakan embun pergi
Tanpa ada sebuah sesal yang tertinggal

Daun dan embun membuatku tersadar akan sebuah perpisahan yang harus direlakan
Tuk melupakan luka yang hadir bersama rasa kecewa
Daun dan embun tak pernah menyesali takdirnya
Meski embun hanya bersamanya beberapa saat saja~

Comments

  1. Daun yang relakan embun
    Karena engkau...

    Ah sudahlah, kalo diteruskan malah ngaco..๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak paa ngaco. Paling juga tembusnya ke rongdo lagi haha

      Delete
    2. Ih, kok manggilnya paa paa sih, aku jadi ga enak, padahal kan baru kenal..๐Ÿ˜ฑ

      Delete
    3. Ahaha ya Allah, typo ๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜’PEDE banget sih om satu ini๐Ÿ˜ชpen tak masukin ke kaleng honguan tah?

      Delete
    4. ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

      Delete
    5. Gak bakal bsa kabur hahah

      Delete
  2. Begitu hebat dan ikhlasnya daun ya, walau hanya menjadi tempat singgah sementara, tapi tetap ada kebahagiaan. blog saya lagi bersih-bersih komentar, semenjak google plus tutup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe daun emang bijak banget. Santai menghadapi apapun hehe. Kena angin, kena hujan, dll.

      Lah maksdnya gmna bang?

      Delete
    2. Maksudnya...para komentator yg kemarin masih ndableg pakai akun google plus akan terhapus dan musnah di blogger.

      Delete
    3. Kurang tahu mas Budi, coba tanya pada rongdo yang bergoyang..๐Ÿ˜‚

      Delete
    4. @Budi, uh kasian juga yak. Harus sibuk berbenah

      @Agus, rongdo lagi kram. Gak bsa goyang๐Ÿ˜’

      Delete
  3. Untuk saya, daun kering dan embun sejuk. Keduanya saling melengkapi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe klo dlihat emang bkin sejuk. Apalagi kalo pas sama terbitnya matahari... ๐Ÿ˜

      Delete
  4. Daun tak pernah menyesal, karna daun tau besok embun akan datang lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi meski akan selalu ditinggal pergi๐Ÿ˜…

      Delete
    2. Hihi dan akan selalu datang lagi

      Delete

    3. Hihi iya. Begitu selalu. Sampai ak ada lagi pagi...

      Delete
    4. Dan daunya tetap menari, hihi

      Delete
    5. Dan akan terus begitu sampai daun mengering dan hancur berbaur bersama bumi...

      Delete
    6. Dan embun akan datang lg utk membahasi bumi yg menelsn daun kering, akhirnya... Munculah daun kecil yg segar. Dan embun tetap menunggu hingga daun itu bisa menari lg bersamanya

      Delete
    7. Hihi embun pun tak pernah lelah. Menanti daun yang kan tumbuh lebih indah nan gemulai lagi. Bahkan, embun menjaga kelembapannya, agar daun tetap segar nan memesona๐Ÿ˜…

      Delete
  5. Seperti tukang parkir yang rela membiarkan kendaraan yang diparkirnya pergi karena tahu kendaraan itu akan kembali lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah denger kalimat inj dari temen deket. Dan skarang keinget lagi.
      Iya. Tukang parkir hatinya pun lapang hehe

      Delete
  6. Satu satu daun muda bersemi
    Ganti kan yg tua....
    ๐Ÿ˜€
    Kita kan pergi dan ditinggal pergi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Owh kamu ketahuan,

      Ternyata kang Sofyan suka daun muda ya.๐Ÿ˜‚

      Delete
    2. @Sofyan, ahahaha ketahuan kan jadinya. Pasti ini ketularan ilmunya om @Agus, kan? Haha ketahuan kalian.. Tercyduk๐Ÿ˜•๐Ÿ˜’

      Delete
    3. Emangnya gayung pakai cyduk segala..๐Ÿ˜

      Delete
    4. Hahaha aku mah kebawa bawa nih๐Ÿ˜ƒ

      Delete
    5. @Agus, hish gayung buat nyiduknya loh... ๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’
      @Sofyan, hadeh abang satu ini, ngaku aja deh๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Žbhaha!

      Delete
  7. Jadi keinget embun yang membeku membentuk serpihan kristal salju di Dieng beberapa bulan lalu ...

    Sugeeeer bayanginnya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noh kan, bang Hima pamerin aku lagi. Hiksss๐Ÿ˜ญ

      Delete
    2. Ampyuuun Dijeeeh ... ๐Ÿ˜

      Aku ngga sengaja loh mamerin kayak gituuu ...
      Ya, seenganya, sih ...


      ... biar Bintang pengin jugaaaaa lihat salju di Dieng ..
      Wwwkkk ๐Ÿ˜…

      Delete
    3. Hahaha aku tuh punya keinginan travlling. Tapi, apalah daya. Aku gak boleh keluar dari kurungan kwkw. Jd gak ada pengalaman

      Delete
  8. Ini puisi tentang keikhlasan hati yang diumpankan dengan daun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihihi aku malah gak kepikiran kesitu pas nulis puisinya

      Delete
  9. Haduh dek bintang g bisa klik replay nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa nih hihi dh pake template yg sbelumnya hihu

      Delete
  10. puisinya bagus dan keren.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihihi ah masa sih? Kalo gtu๐Ÿ˜…pajaknya mana? Kwkwkw

      Delete
  11. lumayan keren,

    "kadang kita musti merelakan sesiapa yang kita cintai. Tetapi kadang kita pun butuh rindu untuk menjadi kenangan yang memukau" (Ihsan Subhan)

    ReplyDelete
  12. kalaulah daun meminta bayaran pada embun, agaknya mampukah embun membayarnya? ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spertunya gak mampu kak. Embun slalu datang menumpang singgah

      Delete

Post a Comment

Terimakasih telah mapir di rumah minimalisku. Jangan pernah bosan ya! Nanti gak dikasih permen loh.